Jumat, 22 Maret 2019

Manajemen Perubahan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Mengendalikan adalah suatu usaha untuk meneliti kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pengendalian berorientasi pada objek yang dituju dan merupakan alat untuk mengajak orang-orang bekerja menuju sasaran yang ingin dicapai. Pengendalian merupakan suatu proses dasar untuk mendapatkan sesuatu yang identik dan apa saja yang akan dikendalikan.
Pengendalian yang baik membantu memperlancar hubungan antar manusia. Responsi manusianya terhadap langkah-langkah pengendalian merupakan kunci dari sebuah pertimbangan. Usaha-usaha pengendalian dapat dan harus digunakan untuk mendorong hubungan yang baik diantara para anggota. Pengendalian harus merupakan kegiatan positif dan membantu. Manajer-manajer yang efektif akan menggunakan usaha pengendalian untuk membantu mereka yang memerlukannya dan menentukan jenis kebutuhan mereka.
Pengendalian membantu mengidentifikasikan masalah-masalah manajemen. Usaha-usaha untuk mgengidentifikasikan masalah-masalah merupakan tantangan bagi para manajer. Seorang manajer akan menyadari suatu masalah apabila terjadi penyimpangan dari sasaran yang ingin dicapai. Seringkali terjadi bahwa ada lebih dari satu penyimpangan yang berhubungan dengan suatu masalah dan menjadi tugas manajer yang bersangkutan untuk membatasi penyimpangan tersebut dan menentukan relevansi masing-masing








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengendalian Perubahan
Industri Farmasi mempunyai kewajiban untuk menjaga kegiatannya selalu di bawah kendali dan harus mengendalikan kualitas produknya. Pengendalian yang baik juga merupakan pengendalian bisnis yang baik, karena dapat memberikan hasil produk yang konsisten dalam kualitas dan kuantitas, meminimalkan kegagalan produksi, fasilitas dan proses selalu dalam kondisi yang baik.
Pengendalian Perubahan adalah suatu fungsi manajemen dan merupakan elemen yang kritis (rawan) dalam Sistem Manajemen Mutu di Industri Farmasi, Departemen Pemastian Mutu (Quality Assurance) adalah departemen yang biasanya ditugaskan sebagai penanggung jawab Pengendalian Perubahan di Industri Farmasi karena Pengendalian Perubahan merupakan aspek yang penting dalam penerapan Pemastian Mutu (Quality Assurance) di Industri Farmasi.
Pengendalian perubahan merupakan tuntutan CPOB yang difokuskan pada pengelolaan perubahan untuk mencegah konsekuensi yang tidak diharapkan berkaitan dengan mutu obat yang dihasilkan. Pengendalian Perubahan merupakan suatu sistem yang formal di mana pimpinan beberapa departemen (Tim Pengendalian Perubahan) mengkaji usulan perubahan atau mengkaji perubahan yang terjadi yang mungkin mempengaruhi status validasi suatu fasilitas, sistem, peralatan atau proses. Tujuan Pengendalian Perubahan adalah untuk menetapkan tindakan yang memastikan dan mendokumentasikan bahwa sistem tetap terjaga dalam keadaan tervalidasi.

B. Pengendalian Proses
Agar proses selalu stabil dibutuhkan instalasi alat-alat pengendalian. Alat-alat pengendalian dipasang dengan tujuan:
1.      Menjaga keamanan dan keselamatan kerja
Keamanan dalam operasi suatu pabrik kimia merupakan kebutuhan primer untuk orang-orang yang bekerja di pabrik dan untuk kelangsungan perusahaan. Untuk menjaga terjaminnya keamanan, berbagai kondisi operasi pabrik seperti tekanan operasi, temperatur, konsentrasi bahan kimia, dan lain sebagainya harus dijaga tetap pada batas-batas tertentu yang diizinkan.
2.      Memenuhi spesifikasi produk yang diinginkan
Pabrik harus menghasilkan produk dengan jumlah tertentu (sesuai kapasitas desain) dan dengan kualitas tertentu sesuai spesifikasi. Untuk itu dibutuhkan suatu sistem pengendali untuk menjaga tingkat produksi dan kualitas produk yang diinginkan.
3.      Menjaga peralatan proses dapat berfungsi sesuai yang diinginkan dalam desain
Peralatan-peralatan yang digunakan dalam operasi proses produksi memiliki kendala-kendala operasional tertentu yang harus dipenuhi. Pada pompa harus dipertahankan NPSH, pada kolom distilasi harus dijaga agar tidak flooding, temperatur dan tekanan pada reaktor harus dijaga agar tetep beroperasi aman dan konversi menjadi produk optimal, isi tangki tidak boleh luber ataupun kering, serta masih banyak kendalakendala lain yang harus diperhatikan.
4.      Menjaga agar operasi pabrik tetap ekonomis.
Operasi pabrik bertujuan menghasilkan produk dari bahan baku yang memberi keuntungan yang maksimum, sehingga pabrik harus dijalankan pada kondisi yang menyebabkan biaya operasi menjadi minimum dan laba yang diperoleh menjadi maksimum.
5.      Memenuhi persyaratan lingkungan
Operasi pabrik harus memenuhi berbagai peraturan lingkungan yang memberikan syarat-syarat tertentu bagi berbagai buangan pabrik kimia.
Untuk memenuhi persyaratan diatas diperlukan pengawasan (monitoring) yang terus menerus terhadap operasi pabrik kimia dan intervensi dari luar (external intervention) untuk mencapai tujuan operasi. Hal ini dapat terlaksana melalui suatu rangkaian peralatan (alat ukur, kerangan, pengendali, dan komputer) dan intervensi manusia (plant managers, plants operators


C.    Pengedalian Lingungan
Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan pada BAB IV  pasal 13  menjelaskan dalam upaya pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup:
Bahwa pengendalian dilakukan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan sebagaimana akibat dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
Kegiatan pengendalian itu sendiri meliputi a) pencegahan, b) penanggulangan, c) pemulihan.
Kegiatan pengendaliaan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan oleh a) pemrintah, b) pemerintah daerah, c) penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran dan tanggung jawab masing-masing.
Jadi jelas bahwa kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama dengan para pelaku usaha dan/atau kegiatan. Pengendalian itu sendiri pada prinsipnya adalah suatu upaya pengendalian terhadap dampak lingkungan yang akan terjadi baik positif maupun negatif meliputi seluruh komponen lingkungan (biotik, abiotik, culture budaya) baik itu dampak primer (dampak utama) maupun dampak sekunder (dampak turunan dampak utama) sebagai konsekuensi pembangunan industri. Pada umumnya dampak lingkungan yang sering muncul lebih banyaklah  dampak sosial ekonomi dan sosial budaya ketimbang dampak yang lainnya, dimana dampak sosial budaya yang antara lain seperti persentasi rekruitmen tenaga kerja lokal dan non lokal, kesempatan berusaha, kemacetan lalulintas yang meningkat, dampak terhadap tingkat pendapatan masyarakat sekitar usaha dan/atau kegiatan, kerusakan jalan sebagai akibat dari mobilitas kendaraan industri yang bertonase tinggi,  yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat di sekitar lokasi kegiatan sehingga memerlukan penanganan yang tidak lagi dari pelaku usaha dan/atau kegiatan (perusahaan) akan tetapi peranan pemerintah sebagai mediator sangat diperlukan.
Ada beberapa ketentuan dan peraturan yang perlu dipenuhi pengusaha industri baik itu industri pertambangan, pariwisata, perkebunan, dll dalam upaya mengurangi/meminimalisir dampak negatif dan meningkatkan/memaksimalkan dampak positif sebagai akibat dari kegiatan usaha dan/atau kegiatannya, ketentuan dan peraturan ini kadangkala hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan saja dalam memperoleh izin operasional dan/atau izin usaha padahal pelaksanaan dari ketentuan dan peraturan ini masih jauh dari harapan dalam pelaksanaanya, ketentuan dan peraturan tentang AMDAL pada umum dipenuhi oleh perusahaan dalam memperoleh izin operasional tetapi tidak dilaksanakan dilapangan sebagaimana yang menjadi janji perusahaan dalam belaku usaha dan/atau kegiatan, dan tidak sedikit pengusaha membuat AMDAL tapi hanya sekedar pajangan saja di lemari arsip kerjanya.
Dalam upaya pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan pemerintah telah melakukan upaya-upaya tersebut melalui instrumen pencegahan sebagaimana di sampaikan dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaa Lingkungan Hidup yang antara lain AMDAL,UKL-UPL, perizinan, KLHS, Tata Ruang, Baku Mutu Lingkungan Hidup, baku mutu kerusakan lingkungn hidup, anggaran berbasis lingkungan, audit lingkungan, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan, instrumen ekonomi lingkungan dan instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan perkembang ilmu pengetahuan.

D.    Makna Keberlanjutan
Rangkaian peristiwa yang telah terjadi maupun yang akan terjadi merupakan peristiwa yang berkelanjutan, sebab tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri dan bisa dipisahkan dengan peristiwa lainnya. Adapun konsep keberlanjutan, yaitu suatu keadaan yang telah berlangsung lama. Keberlanjutan dalam sejarah merupakan rangkaian peristiwa di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Contohnya yang bisa lihat adalah kasus korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang ada di Indonesia. KKN yang terjadi pada era Reformasi merupakan keberlanjutan dari budaya KKN periode Orde Baru. KKN pada masa Orde Baru merupakan keberlanjutan dari budaya KKN periode Orde Lama, dan begitu seterusnya. Bisa kita simpulkan bahwa budaya korupsi telah menjadi budaya yang diturunkan dari generasi satu ke generasi lainnya.
Sekarang kamu sudah paham kan makna dari perubahan dan keberlanjutan? Beberapa penjelasan di atas bisa kamu jadikan landasan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi terjadi atau tidaknya perubahan. Kemudian tentang keberlanjutan, suatu keadaan terjadi karena adanya hubungan dengan keadaan yg lainnya, baik keadaan hari ini, keadaan masa lampau, dan keduanya berpengaruh pada masa yang akan datang.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Mengendalikan adalah suatu usaha untuk meneliti kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pengendalian berorientasi pada objek yang dituju dan merupakan alat untuk mengajak orang-orang bekerja menuju sasaran yang ingin dicapai. Pengendalian merupakan suatu proses dasar untuk mendapatkan sesuatu yang identik dan apa saja yang akan dikendalikan.
Pengendalian yang baik membantu memperlancar hubungan antar manusia. Responsi manusianya terhadap langkah-langkah pengendalian merupakan kunci dari sebuah pertimbangan. Usaha-usaha pengendalian dapat dan harus digunakan untuk mendorong hubungan yang baik diantara para anggota.
Dalam upaya pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan pemerintah telah melakukan upaya-upaya tersebut melalui instrumen pencegahan sebagaimana di sampaikan dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaa Lingkungan Hidup yang antara lain AMDAL,UKL-UPL, perizinan, KLHS, Tata Ruang, Baku Mutu Lingkungan Hidup, baku mutu kerusakan lingkungn hidup, anggaran berbasis lingkungan, audit lingkungan, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan, instrumen ekonomi lingkungan dan instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan perkembang ilmu pengetahuan.









DAFTAR PUSTAKA

Sofyandi, Herman.2003. Perilaku Organisasi.  Graha Ilmu. Yogyakarta

Sumarsan, Thomas. 2013. Sistem Pengendalian Manajemen.  Indeks. Jakarta.

Rivai, Veithzal. Dkk. 2010. Education Manajemen.  RajaGrafindo, Persada. Jakarta.



Senin, 21 Januari 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN


TIM DAN PERUBAHAN



Di Susun Oleh :

NAMA           : KHAIRUL IKHWAN
NIM                : 152709092




Description: LOGO IAIN.jpg

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
LHOKSEUMAWE
2019


BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Organisasi adalah suatu sistem yang dirancang untuk dapat mencapai tujuan yang  telah  dikehendaki.  Organisasi sering dikatakan sebagai tempat dari upaya pencapaian kerjasama tim dalam meraih tujuan. Dalam usaha pencapaian tujuan organisasi, permasalahan yang dihadapi   bukan   hanya   terdapat   pada bahan mentah, alat-alat kerja, mesin-mesin produksi, lingkungan kerja dan sumber daya manusia saja, tetapi juga menyangkut kerjasama tim. Tujuan suatu organisasi tidak dapat terwujud tanpa peran aktif dari karyawan dan tim yang solid.
Menurut Daft definisi resmi untuk organisasi (organization) adalah entitas   social yang diarahkan dengan tujuan dan dengan penuh untuk menghasilkan sebuah produk atau jasa.[1]
Pada dasarnya tujuan organisasi adalah meningkatkan kinerja untuk tercapainya  tujuan  organisasi,  mampu bertahan dalam persaingan dengan organisasi lain,  serta  dapat  mencapai target profit. Oleh karena itu  organisasi harus   dapat    memanfaatkan    sumber-sumber   SDM  secara   efektif   dan efisien, disinilah dituntut kerja sama tim yang solid. Popularitas tim dewasa dapat ditunjukkan  melalui  kinerja  tim  yang lebih  unggul  daripada  kinerja  individu bila tugas menuntut keterampilan ganda[2]. Dengan organisasi yang telah merestrukturisasi diri akan dapat bersaing dengan efektif dan efisien, berubah menjadi tim yang mampu memanfaatkan bakat karyawan secara  lebih  baik.  Berarti  terdapat dampak positif dari kerjasama tim terhadap efisiensi kerja.
B.            Rumusan masalah
a.       Apa Yang Dimaksud Dengan Tim..............................?
b.      Pentingnya Tim Dalam Organisasi..............................?
c.       Kefektifan Tim.............................................................?
d.      Tim dan Perubahan Organisasional..............................?
C.           Tujuan Penulisan
a.         Untuk mengetahui definisi tim
b.        Untuk mengetahui pentingnya tim dalam organisasi
c.         Untuk mengetahui tim yang efektif
d.        Untuk mengetahui perubahan orgniasional























BAB II
PEMBAHASAN


A.           Definisi Tim
Istilah tim merujuk kepada  suatu kelompok  yang bekerja  sama  untuk  mencapai  suatu  misi  atau tujuan  tertentu.  Tim  memiliki  bentuk,  misi,  dan durasi  yang  beragam.  Karolyn  J.  Snyder  and Robert H. Anderson mengidentifikasi  dua tipe team, yaitu tim permanen dan tim sementara. Tim  Permanen  mengkhususkan  dalam  fungsi tertentu  yang  dilakukan  secara  berkelanjutan. Sedangkan,  Tim  Sementara  merupakan  team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan  jangka  pendek  yang  kemudian  dapat dibubarkan  kembali,  setelah  pekerjaan  selesai. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara.[3]
Menurut Burn istilah tim didefinisikan sebagai sebuah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa orang dengan kompetensi yang setara, dimana mereka bekerja secara interdependen/ketergantungan dalam melaksanakan pekerjaan di satu organisasi.[4]
Team/Team work bisa diartikan sebagai kerja tim atau kerjasama, team work atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai  misi yang sudah disepakati sebelumnya  untuk  mencapai  tujuan  bersama secara  efektif dan  efisien.  Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencapai tujuan bersama. Sebuah tim itu sangat memebutuhkan kemauan untuk saling bergandengan-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan  atau  tidak ahli dalam pekerjaan A, namun  dapat  dikerjakan  oleh  anggota  tim  lainnya.  Inilah  yang  dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama serta saling melengkapi antar sesama.
Kerja tim sebagai proses kerja dinyatakan Buchholz, Teamwork is theprocess of working in a group by participative leadership, shared responsibility,aligned on purpose, intensive communication, future focused, focused on task,creative talents and rapid response to get the aims of the organizatio. Dijelaskan bahwa Kerja tim adalah proses kerja dalam kelompok dengan adanya kepemimpinan yang partisipatif, tanggung jawab  yang terbagi, penyamaan tujuan, komunikasi yang intensif, fokus pada masa depan, fokus pada tugas, bakat kreatif dan tanggapan yang cepat untuk mencapai tujuan organisasi.[5]

B.            Pentingnya Tim Dalam Organisasi
Kerja Tim (tema work) adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk tujuan yang sama. Kerja tim yang efektif adalah faktor utama dalam kepuasan pelanggan. Tim berperan penting dalam perkembangan suatu organisasi/perusahaan. Adapun beberapa pentingnya  peran tim dalam organisasi adalah sebagai berikut :
1.             Pencipta-Pembaru (Creator Inovator)
Orang yang termasuk dalam pencipta-pembaru adalah orang yang mempunyai daya imaginasi tinggi dalam memprakarsai gagasan atau konsrp. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki ciri: tak bergantung pada orang lain, suka bekerja sendiri, memiliki cara dan gaya kerja tersendiri, serta pengaturan waktu menurut mereka sendiri.
2.             Penjelajah-Promotor (Explorer-Developer)
Orang dalam kelompok ini senang mengambil gagasan baru dan memperjuangkan kasus, serta mampu menemukan sumber daya untuk mempromosikan gagasannya. Kelemahan orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini adalah kadang tidak sabar dalam mengendalikan keterampilan untuk memastikan bahwa gagasannya benar-benar ditindaklanjuti secara rinci.
3.             Pendorong-Pengorganisasi (Thruster-Organizer)
Individu ini memiliki kemampuan yang baik dalam menyusun prosedur operasi untuk mengubah gagasan menjadi kenyataan dan menyelesaikan urusan. Mereka menentukan tujuan, menetapkan rencana, mengorganisasi orang-orang, dan menegakkan sistem untuk menjamin dipatuhinya tenggak waktu (deadline).
4.             Penyimpul-Penghasil (Concluder-Producer)
Individu ini peduli pada hasil. Peran mereka memfokuskan pada ditaatinya batas waktu dan memastikan bahwa semua komitmen ditindaklanjuti. Mereka bangga dengan hasil yang teratur dan sesuai standar.[6]

C.           Kefektifan Tim
Menurut Sopiah ada berbagai karakter yang melekat pada tim yang  efektif.  Karakter-karakter  tersebut adalah sebagai berikut[7]:
1.             Mempunyai Komitmen Terhadap  Tujuan Bersama
Anggota  tim  yang  sukses menuangkan waktu dan upaya yang sangat banyak ke dalam pembahasan, pembentukan dan persetujuan mengenai suatu maksud yang menjadi milik mereka baik secara kolektif maupun individual. Maksud bersama ini,  bila  diterima  dengan  baik  oleh tim,    akan    setara    dengan    peran navigasi benda langit bagi kapten kapal. Maksud bersama itu memberikan pengarahan dan bimbingan  kepada  setiap dan  semua kondisi.
2.             Menegakkan Tujuan Spesifik
Tim   yang   sukses   menerjemahkan maksud bersama mereka sebagai tujuan–tujuan   kerja   yang   realistis, yang    dapat    diukur    dan    bersifat spesifik. Tujuan yang spesifik mempermudah mereka dalam berkomunikasi.Tujuan itu juga membantu memelihara fokus mereka pada perolehan hasil.
3.             Kepemimpinan Dan Struktur
Tujuanny adalah mendefinisikan target akhir dari tim. Di samping itu tim       berkinerja tinggi juga memerlukaan kepemimpinan dan struktur untuk memberikan fokus dan pengarahan. Mendefinisikan dan menyepakati suatu       pendekatan bersama, misalnya, memastikan bahwa tim itu dipersatukan pada cara untuk mencapai tujuan.
4.             Menghindari  Kemalasan  Sosial  Dan Tanggung Jawab
Individu–individu dapat bersembunyi dalam suatu kelompok.Mereka dapat menyibukkan diri  dalam  kemalasan  sosial dan meluncur  bersama  upaya  kelompok karena sumbangan individual mereka tidak    dapat    dikenali. Tim    yang berkinerja tinggi mengurangi kecenderungan  ini  dengan  membuat diri mereka       dapat dimintai pertanggung jawaban baik secara individual maupun pada tingkat tim. Evaluasi Kinerja dan Sistem Ganjaran yang Benar
5.             Mengembangkan Kepercayaan Timbal-Balik Yang Tinggi
Tim kinerja tinggi dicirikan oleh kepercayaan (trust) timbal balik yang tinggi  di  antara  anggota-anggotanya. Artinya, para anggota meyakini akan integritas, karakter dan kemampuan setiap anggota yang lain.

D.           Tim dan Perubahan Organisasional
Perubahan Organisasi adalah suatu proses dimana organisasi tersebut berpindah dari keadaannya yang sekarang menuju ke masa depan yang diinginkan untuk  meningkatkan  efektifitas  organisasinya.  Tujuannya  adalah  untuk mencari cara  baru  atau  memperbaiki  dalam  menggunakan  resources  dan  capabilities dengan  tujuan  untuk  meningkatkan  kemampuan  organisasi  dalam  menciptakan nilai dan  meningkatkan hasil yang diinginkan kepada stakeholders.
Menurut Desplaces perubahan yang terjadi dalam organisasi seringkali  membawa  dampak  ikutan yang selalu tidak menguntungkan.[8]  Bahkan menurut Abrahamson, perubahan itu akan menimbulkan kejadian yang “dramatis” yang harus dihadapi oleh semua warga organisasi.[9] Desplaces mengutip kajian yang dilakukan Poras dan Robertson's menyatakan bahwa kebijakan perubahan yang dilakukan oleh organisasi hanya memberikan manfaat positif   bagi  organisasi   sebesar   38%.  Meskipun   perubahan   organisasi   tidak langsung  memberikan  manfaat  yang  besar  bagi  kemajuan  organisasi,  namun beberapa praktisi tetap meyakini tentang pentingnya suatu organisasi untuk melakukan perubahan.[10]
a)        Target perubahan
1.    Sumber Daya Manusia
Sumber  daya  manusia  merupakan  aset  penting  dalam  suatu  organisasi. Pada akhirnya, suatu organisasi mengkhususkan kompetensi berdasarkan pada keahlian dan kemampuan dari pegawainya. Karena keahlian dan kemampuan ini memberikan organisasi keuntungan dalam berkompetisi, organisasi harus terus menerus  mengawasi  strukturnya  untuk  mencari  cara yang  paling  efektif  dalam memotivasi dan mengorganisir sumber daya manusia untuk memperoleh dan menggunakan keahlian mereka.
2.    Sumber Daya Fungsional
Suatu  organisasi  dapat  meningkatkan  nilai  dengan  merubah  struktur, budaya  dan  teknologi.  Perubahan  dari  fungsional  ke  sebuah  produk  sebagai contoh,  mempercepat  proses  pengembangan  produk  baru.   Perubahan  di dalam struktur  fungsional  dapat  membantu  menyediakan  suatu  pengaturan  di  mana orang-orang termotivasi untuk melaksanakannya.

3.    Kemampuan Teknologi
Kemampuan  teknologi  memberi  sebuah organisasi  suatu kapasitas  yang besar  untuk  merubah  dengan  sendirinya  dengan  tujuan  memanfaatkan  peluang pasar. Pada tingkat organisasi, sebuah organisasi harus menyediakan konteks yang memungkinkan  untuk  menerjemahkan  kompetensi  teknologinya  menjadi  nilai bagi para stakeholder.
4.    Kemampuan Organisasi
Melalui   struktur   organisasi   dan   budaya,   sebuah   organisasi   dapat memanfaatkan sumebr daya manusia dan fungsional untuk memanfaatkan peluang teknologi. Perubahan organisasi sering kali melibatkan hubungan antara manusia dan fungsi-fungsi  untuk  meningkatkan  kemampuan  mereka  dalam menciptakan nilai.
b)        Tuntutan untuk Perubahan Organisasi
Jaman akan terus menerus berubah secara konstan, dan suatu organisasi harus menyesuaikan dengan segala perubahan untuk dapat bertahan.
1.    Kekuatan Persaingan (Competitive Forces)
Setiap   organisasi   berusaha   keras   untuk   mencapai   keuntungan   dari persaingan. Persaingan menjadi pemicu untuk melakukan perubahan dikarenakan apabila  organisasi  tersebut  tidak  dapat  melebihi  pesaingnya  dalam  efisiensi, kualitas atau kemampuan  untuk melakukan inovasi pada produk dan jasa, maka organisasi tersebut tidak akan bertahan.
2.    Ekonomi. Politik, Dan Kekuatan Global
Ekonomi,  politik,  dan  kekuatan  global  secara  terus  menerus mempengaruhi  organisasi  dan memaksa  mereka  untuk  bagaimana  dan di mana harus  menghasilkan  barang  dan  jasa.  Perserikatan  ekonomi  dan  politik  antar negara menjadi suatu kekuatan yang penting untuk perubahan.  Tidak ada suatu organisasi yang mampu mengabaikan dampak dari ekonomi global dan kekuatan politik terhadap aktivitasnya.
3.    Kekuatan Demografi Dan Sosial (Demography And Social Forces)
Perubahan dalam komposisi dari kekuatan pekerja dan terus meningkatnya keaneka  ragaman  karyawan,  hal  ini  mengenalkan  pada  organisasi  banyaknya peluang dan tantangan. Perubahan dalam karakteristik demografis dari  kekuatan pekerja memaksa para manajer untuk merubah gaya mereka dalam mengatur karyawan dan belajar bagaimana cara memahami, mengawasi dan memotivasi dengan setiap anggota yang berbeda secara efektif. Banyak perusahaan membantu para  pekerja  mereka  untuk  memahami  akan  adanya  perubahan  teknologi  yang terus   berkembang   dengan   menyediakan    dukungan   dalam   mengedepankan pelatihan dan pendidikan.
4.    Kekuatan Etika (Ethical Forces)
Sama pentingnya bagi suatu organisasi dalam mengambil tindakan untuk berubah sebagai tanggapan atas tuntutan dalam perubahan demografis dan sosial untuk    kearah  perilaku  perusahaan  yang  lebih  jujur  dan  bertanggung  jawab. Banyak organisasi membutuhkan perubahan untuk mengijinkan para manajer dan para pekerja  di semua  tingkatan  untuk  melaporkan  perilaku  yang tidak pantas, sehingga suatu organisasi dapat  dengan segera menyingkirkan perilaku seperti itu dan melindungi kepentingan umum bagi para pelanggan dan anggotanya.











BAB III
PENUTUP


A.           Kesimpulan

Tim adalah proses kerja dalam kelompok dengan adanya kepemimpinan yang partisipatif, tanggung jawab  yang terbagi, penyamaan tujuan, komunikasi yang intensif, fokus pada masa depan, fokus pada tugas, bakat kreatif dan tanggapan yang cepat untuk mencapai tujuan organisasi.
Adapun beberapa pentingnya  peran tim dalam organisasi adalah sebagai berikut :
5.             Pencipta-Pembaru (Creator Inovator)
6.             Penjelajah-Promotor (Explorer-Developer)
7.             Pendorong-Pengorganisasi (Thruster-Organizer)
8.             Penyimpul-Penghasil (Concluder-Producer)
Berbagai karakter yang melekat pada tim yang  efektif.  Karakter-karakter  tersebut adalah sebagai berikut :
6.             Mempunyai Komitmen Terhadap  Tujuan Bersama
7.             Menegakkan Tujuan Spesifik
8.             Kepemimpinan Dan Struktur
9.             Menghindari  Kemalasan  Sosial  Dan Tanggung Jawab
10.         Mengembangkan Kepercayaan Timbal-Balik Yang Tinggi







DAFTAR PUSTAKA


Abrahamson, E. (2000). Change Without Pain. Harvard Business Review.
Burns, R.B. (1993) Konsep Diri Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Prilaku. Jakarta : Arcan.
Daft,    Richard L. (2003). Manajemen, Edisi Keenam Jilid Satu. Jakarta : Erlangga.
Desplaces,  David.,  (2005),  A  Multilevel  Approach  To  Individual  Readiness  To Change, Journal Of Behavioral And Applied Management, Vol. 7 No.1
Mastembroek,. W. F. G. (1986)  Penanganan Konflik, Dan Pertumbuhan Organisasi. Jakarta: UI-Pres.   
Roland,  Robertson.  (1992).  Globalization:  Social  Theory  And  Global  Culture. London: Sage Publications. Diakses dari: http://www.katailmu.com/2012/01/pengertianglobalisasi.html.sabtu, November 8, 2018
Sopiah, (2008). Perilaku Organisasi. Edisi Pertama. Yogyakarta: ANDI.



[1]Daft,    Richard L. 2003. Manajemen, Edisi Keenam Jilid Satu. Jakarta : Erlangga. Hlm. 12
[2]Sopiah, 2008.Perilaku Organisasi. Edisi Pertama. Yogyakarta: ANDI. hlm. 30
[3]Mastembroek,. W. F. G.. Penanganan Konflik, Dan Pertumbuhan Organisasi. (Jakarta: UI-Pres: 1986). Hlm. 45
[4]Burns, R.B. Konsep Diri (Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Prilaku). (Jakarta : Arcan 1993). Hlm. 30
[5] Buchholz, Steve, Creating the High Performance Team. (Canada: John Wiley & Sons, Inc 2000.). hlm. 38
[6]https://www.anugerahdino.com/2015/10/peran-tim-dalam-suatu-organisasi.html di akses pada tanggal 1/11/18 
[7]Sopiah,.Perilaku Organisasi. Edisi Pertama. (Yogyakarta: ANDI, 2008). Hlm. 43
[8]Desplaces,  David.,  (2005),  A  Multilevel  approach  to  individual  readiness  to change, Journal of Behavioral and Applied Management, Vol. 7 No.1, 25-39.
[9]Abrahamson, E. (2000). Change without pain. Harvard Business Review, 78,75-79. 
[10]Roland,  Robertson.  1992.  Globalization:  Social  Theory  And  Global  Culture. London:              Sage Publications. Diakses dari: http://www.katailmu.com/2012/01/pengertianglobalisasi.html. sabtu, November 8, 2018