Senin, 18 Desember 2017

SUPERVISI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang
Lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai organisasi nirlaba yang melayani masyarakat. Meski pun sifatnya nirlaba, namun bukan berarti sekolah tidak dituntut untuk terus meningkatkan mutu proses maupun output pendidikannya. Sebaliknya, sekolah sangat diharapkan  benar-benar memer-hatikan mutu, karena tugas suci yang diembannya adalah turut mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam menjaga mutu proses tersebut, diperlukan adanya quality controll yang mengawasi jalannya proses dan segala komponen pendukung- nya. Meski demikian pengawasan mutu dalam dunia pendidikan tentu berbeda dengan peruasahaan yang memproduksi barang/jasa. Sekolah adalah sebuah people changing institution, yang dalam proses kerjanya selalu berhadapan dengan uncertainty and interdependence Maksudnya mekanisme kerja (produksi) di lembaga pendidikan secara teknologis tidak dapat dipastikan karena kondisi input dan lingkungan yang tidak pernah sama. Selain itu proses pendidikan di sekolah juga tidak terpisahkan dengan lingkungan keluarga maupun pergaulan peserta didik.[1]
Dalam situasi demikian, maka pengawasan terhadap sekolah pasti berbeda model dan pendekatannya. Peran seorang pengawas pendidikan pun tentu berbeda dengan pengawas pada perusahaan produksi. Ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengem- bangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun individual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum. Terakhir, supervisor juga harus melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah dan pembelajaran pada sekolah-sekolah yang menjadi lingkup tugasnya.[2]
B.                 Rumusan Masalah
a.                   Informasi Dan Data Supervisi..........................................................?
b.                   Sumber Data Supervisi.....................................................................?
c.                   Teknik-Teknik Pengumpulan Informasi Dan Data Supervisi..........?



















BAB II
PEMBAHASAN

A.                 Pengertian Supervisi
Supervisi adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkat- kan mutu pendidikan. Untuk melakukan  supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina pening- katan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik,  baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic).
Pengertian supervisi secara etimologis, menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.[3]
Dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar dalam suatu lembaga pendidikan, serta seorang kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
B.                 Informasi Dan Data Supervisi
Inti pengertian supervisi adalah upaya meningkatakan kualitas kegiatan sekolah berdasarkan data yang lengkap, konfrehensif, rinci dan aktual. Peningkatan kualitas tersebutdilakukan dengan memberikan pembinaan kepada perssonel sekolah.
Dalam supervisi terdapat dua kegiatan pokok yaitu :
1.      Mengumpulkan data
2.      Melakukan pembinaan
Berapapun tinggi kemampuan seorang pengawas, tentu tidak akan sanggup mengumpulkan data seperti yang dikehendakinya. Bukan maksud memandang pengawas sebagai penjabat yang kurang mampu, akan tetapi hal tersebut memang tugas pengawas.
Sungguh berat, apalagi kalau harus membina semua gru bidang studi atau mata pelajaran. Seorang pengawas adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Sehubungan dengan kegiatan mengumpulkan data tersebut kini perlu difikirkan hal-hal yang berkenaan dengan data yang digunakan oleh pengawas, kepala sekolah dan siapa saja yang ingin membantu sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan atau kenaikan prestasi belajar siswa. Data yang berhasil diterima oleh pengawas atau kepala sekolah mungkin diberikan kepada orang lain yang membutuhkan atau digunakan sendiri olehnya.
Ada dua hal yang berkenaan dengan data yang digunaakan sebagai bahan untuk pembinaan dalam proses supervisi yaitu :
1.      Informasi atau data yang digunakan untuk pembinaan, yang berkenaan dengan faktor penentu keberhasilan belajar yang selanjutnya disebut data supervisi.
2.      Darimana data dan informasi tersebut diperoleh, yang selanjutnya disebut dengan sumber data atau sumber informasi.[4]
Dalam supervisi akademik, perhatian pengawasan tertuju pada saran yang sedang digunakan dalam proses pembelajaran, pengawasan yang tertarik kepada sarana supervisi administrasi. Data yang dapat digunakan sebagai bahan untuk pembinaan bukan hanya yang diperoleh dari pengamatan kelas oleh pengawas dan kepala sekolah saja, akan tetapi bermacam bentuk diantaranya :
1.      Data tertulis, yang terdapat dalam berbagai arsip dan dokumen yang dimiliki oleh sekolah, baik yang disimpan dikantor tata usaha, guru mata pelajaran, wali kelas, dan oleh siswa sendiri.
2.      Data yang berbentuk suara dan makna bahasa yang dikeluarkan oleh siapa saja yang disengaja oleh pelakunya dalam bentuk pidato, pembicaraan santai, pendapat atau usul, sanggahan atau bantahan, dan dapat juga berupa jawaban ketika orang yang bersangkutan diwawancarai.
3.      Data yang berbentuk gambar atau grafik yang ditangkap oleh indra penglihatan, antara lain berupa gerak orang (gaya mengajar guru dan perilaku siswa ketika mengikuti pelajaran dikelas), benda mati (suasana buku yang ada dalam perpustakaan dan alat-alat yang ditata di laboratorium)
C.                 Sumber Data Supervisi
Sumber data supervisi adalah suatu yang dituju oleh supervisi yang sedang mengumpulkan data, dalam rangkaian upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu sumber data supervisi pernah juga dikenal dengan istilah sasaran supervisi. Istilah sumber data menunjukkan pada tempat dimana data dapat diambil.
Secara garis besar sasaran tentang sumber data dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
1.      Orang yang diwawancarai, meskipun pendengar tidak selalu yang diajak bicara.
2.      Dokumen, yang dicermati isi kandungan yang tertulis dalam benda yang bersangkutan.
3.      Tempat atau lokasi, dimana letak benda, orang, atau apa saja yang dapat langsung diamati dengan mata.
Adapun keterangan untuk masing-masing jenis sumber data yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a.                   Orang atau Personel
Data yangg mungkin diambil dari sumber yang berupa orang adalah data yang berupa informasi, penjelasan, uraian, pendapat, atau usul dan saran mengenai kegiatan pembelajaran yang sudah ataupun yang sedag berlangsung. Personel yang dapat dihubungi dalam pengumpulan data supervisi akademik antara lain kepala sekolah dan wakilnya, guru wali kelas, karyawan dan karyawati dan paling utama adalah siswa sendiriyang langsung merasakan dampak dari pembelajaran maupun segala upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas sekolah. Sumber data yang berupa orang dapat memberikan data berupa keterangan, usul, uraian tentang persepsi atau pendapat yang rangsangan dari pihak lain.
b.                  Dokumen
Dokumen dalam pembicaraan tentang sasaran atau sumber data ini bukan terbatas pada buku-buku pedoman ataupun arsip saja tetapi semua hal yang mengandung tulisan, gambar, tabel dan bahan atau simbol grafis lainnya. Data yang berasal dari dokumen ini lebih dapata dipercaya karena merupakan catatan yang telah lama dibuat.
Sehubung dengan supervisi akademik yang termasuk dalam katagori dokumen yang berkenaan dengan komponen pembelajaran antara lain :
1.      Dokumen tentang komponen siswa, antara lain pengumuman dalam rangka pendaftaran siswa baru, buku pendaftaran dan buku induk.
2.      Dokumen tentang siswa yag jarang terfikir untuk dicermati adalah buku catatan siswa, pekerjaan rumah, tugas di kelas dan pekerjaan ulang mata pelajaran. Dokumen yang sudah dikerjakan dan disimpan oleh petugas bimbingan konseling dengan rapi dapat dimasukkan kedalam dokumen individu siswa karena kegiatannya langsung pada siswa yang bersangkutan.
3.      Dokumen tentang komponen ketenagaan, yaitu guru dan personel yang lain yaitu buku induk pegawai, surat-surat lamaran, kumpulan surat keputusan daftar gaji dan lain sebagainya.
c.                   Tempat atau lokasi
Dalam pembicaraan sasaran atau sumber data dalam supervisi akademik kini sudah cukup jelas. Dalam kunjungan kelas sebagai sumber data adalah tempat bukanlah personel guru karena pengawasan mengumpulkan data tentang gerak-gerik atau kinerja guru didepan kelas bukanlah mewawancarai guru. Demikian juga tentang gaya kepala sekolah dalam memimpin rapat, data yang diperlukan akan diambil dari pengamatan waktu rapat berlangsung.[5]
D.                Teknik-Teknik Pengumpulan Informasi Dan Data Supervisi
Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat dan teknik supervisi.
Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat atau teknik.
1.                  Teknik yang bersifat individual
a.       Perkunjungan kelas setiap kepala sekolah atau supervisi datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar dikelas. Tujuannya untuk memperoleh data mengenai keadaan yang sebenarnya selama guru mengajar. Dengan data tersebut supervisi dapat berbincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru. Pada kesempatan itu guru dapat mengemukakan pengalaman yang berhasil dan hambatan yang dihadapi serta meminta bantuan, dorongan dan mengikut sertakan. Fungsi dari kunjungan kelas adalah sebagai alat mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar guru dan cara belajar siswa.
b.      Observasi kelas
Ada dua macam observasi kelas yaitu :
1.      Observasi langsung yaitu dengan menggunakan alat observasi, supervisi mencatat absen yang dilihat pada saat guru sedang mengajar.
2.      Observasi tidak langsung yaitu orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana murid tidak mengetahuinya dan biasanya dilakukan dalam laboratorium untuk pengajaran mikro.
Tujuan observasi antara lain ialah :
1.      Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisis kesulitan yang dihadapi guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.
2.      Bagi guru sendiri data yang dianalisis akan dapat membantu untuk mengubah cara mengajar ke arah yang lebih baik.
3.      Bagi murid sudah tentu akan dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap kemajuan belajar mereka.
Syarat-syarat untuk memperoleh data dalam observasi yaitu :
1.      Menciptakan situasi yang wajar (cara masuk kelas),mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak menimbulkan prasangka dari pihak guru.
2.      Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
3.      Bukan melihat kelemahan melainkan melihat bagaimana cara memperbaikinya.
4.      Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid tentang proses belajar mengajar.
Alat-alat untuk observasi yaitu :
1.      Check-list adalah suatu alat untuk mengumpulkan data dalam memperlengkapi keterangan-keterangan yang lebih objektif terhadap situasi belajar dan mengajar didalam kelas.[6]
2.                  Teknik-teknik yang bersifat kelompok
Yang dimaksud dengan teknik yang bersifat kelompok ialah teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok.
a.       Pertemuan orientasi bagi guru baru (orientation meeting for new teacher)
Pertemuan tersebut ialah salah satu dari pada pertemuan yang bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja baru.pertemuan orientasi ini bukan hanya kepada guru baru saja akan tetapi juga seluruh staf guru.
b.      Panitia penyelenggara
Suatu kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasikan. Untuk mengorganisasi sesuatu tugas bersama, maka ditunjuk beberapa penanggung jawab pelaksana. Pelaksana ini dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolah kepadanya, banyak menddapat pengalaman-pengalaman kerja. Pengalaman dalam usaha mencapai tujuan, mengerti cara bekerjasama dengan orang lain, pengalaman yang berhubungan dengan tugas yang dibebankan. Berdasarkan pengalaman tersebut guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh dalam profesi mengajarnya.
c.       Teknik rapat guru
Rapat guru banyak sekali jenisnya, baik dilihat dari sifatnya, jenis kegiatan, tujuan maupun orang-orang yang menghadirinya.
Macam-macam rapat guru yaitu :
1.      Menurut tingkatnya
a.       Staff-meeting yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
b.      Rapat guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/wakil-wakilnya.
c.       Rapat guru sekota, sewilayah, dari sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat.
2.      Menurut waktu
a.       Rapat permulaan dan akhir tahun
b.      Rapat periodik
c.       Rapat yang bersifat insidental.
3.      Menurut bentuknya
a.       Individual conference
b.      Diskusi
c.       Seminar dan simposium
d.      Up-grading selama satu mingu atau beberapa hari.[7]
d.      Teknik diskusi
Pertemuan-pertemuan yang berwujud diskusi sering terjadi, baik disekolah maupun diluar sekolah. Diskusi terjadi pada berbagai bentuk pertemuan, bisa dalam rapat sekolah, dalam mimbar ilmiah, dalam laporan penelitian, pertemuan ilmiah, dan pertemuan lainnya. Materi yang di diskusikan pun bermacam-macam sesuai dengan tema dan materi yang dibahas.
            Tujuan teknik diskusi adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam pekerjaannya sehari-hari dan upaya meningkatkan profesi melalui diskusi multi arah di kalangan para peserta supervisi.
            Ada beberapa ciri-ciri tehnik diskusi yaitu :
1.      Supervisi bersifat kelompok yaitu sejumlah guru atau beberapa supervisor
2.      Tempat supervisi bisa saja disekolah ataupun diluar sekolah
3.      Guru yang di supervisi tidak dalam mengajar didalam kelas atau membimbing para siswa belajar
4.      Waktu melaksanakan supervisi bisa mendadak kalau supervisor atau guru menghendaki, ataupun waktu sudah direncanakan sejak awal
5.      Materi yang di diskusikan adalah masalah yang menyangkut dngan upaya peningkatan profesi guru.[8]





BAB III
PENUTUP

A.                 Kesimpulan
supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar dalam suatu lembaga pendidikan, serta seorang kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Ada dua hal yang berkenaan dengan data yang digunaakan sebagai bahan untuk pembinaan dalam proses supervisi yaitu :
1.      Informasi atau data yang digunakan untuk pembinaan, yang berkenaan dengan faktor penentu keberhasilan belajar yang selanjutnya disebut data supervisi.
2.      Darimana data dan informasi tersebut diperoleh, yang selanjutnya disebut dengan sumber data atau sumber informasi.
Secara garis besar sasaran tentang sumber data dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
1.      Orang yang diwawancarai, meskipun pendengar tidak selalu yang diajak bicara.
2.      Dokumen, yang dicermati isi kandungan yang tertulis dalam benda yang bersangkutan.
3.      Tempat atau lokasi, dimana letak benda, orang, atau apa saja yang dapat langsung diamati dengan mata.
Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat atau teknik.
1. Teknik yang bersifat individual
2. Teknik-teknik yang bersifat kelompok


DAFTAR PUSTAKA


Crowson and Pitner,  dasar-dasar supervisi pendidikan , Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Harris,  supervision behavior in education , Englewood Cliffs,  1984.
Ametembunsupervisi pendidikan,  Surabaya : Usaha Nasional, 1993.
Suharsimi Arikunto,  Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta : Rineka Cipta, 1999.
Hadari Nawawi. 1984. Administrasi Pendidikan.  Jakarta : PT. Inti Idayu Press, 1986.
Jhon Minor,  teori dan praktek supervisi, Dodd, N.Y : Mead and Company, 1963.
Piet A. Sahertian,  konsep dasar dan teknik supervisi pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta 2010.
Made Pidarta, supervisi pendidikan konstektual, Jakarta : Rineka Cipta, 2009.





[1] Crowson and Pitner,  dasar-dasar supervisi pendidikan , (Jakarta: Bina Aksara, 1986). hal. 33
[2] Harris,  supervision behavior in education , (Englewood Cliffs,  1984). hal. 20
[3] Ametembun,  supervisi pendidikan,  (Surabaya: Usaha Nasional, 1993). hal. 2
[4] Suharsimi Arikunto,  Dasar-Dasar Supervisi. (Jakarta : Rineka Cipta, 1999). hal. 67
[5] Hadari Nawawi. 1984. Administrasi Pendidikan.( Jakarta : PT. Inti Idayu Press, 1986).hal.47
[6]  Jhon Minor,  teori dan praktek supervisi,  (Dodd, N.Y : Mead and Company, 1963). hal. 326-327
[7] Piet A. Sahertian,  konsep dasar dan teknik supervisi pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta 2010). hal.87-89
[8] Made Pidarta, supervisi pendidikan konstektual, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009). hal. 177-180

perilaku organisasi

BAB I
PENDAHULUAN


1.                  Latar belakang
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati,bertekad berjerih payah,berkorban dan  bertanggung jawab demi mencapai tujuan dirinya dan tujuan organisasi atau perusahaan yang telah disepakati atau ditentukan sebelumnya. Komitmen memiliki peranan penting terutama pada kinerja seseorang ketika bekerja,hal ini disebabkan oleh  adanya komitmen yang menjadi acuan serta dorongan yang membuat mereka lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Namun kenyataanya banyak organisasi atau perusahaan yang kurang memperhatikan mengenai komitmen / loyalitas karyawannya sehingga kinerja mereka kurang maksimal. Seharusnya organisasi atau perusahaan ketika melakukan perekrutan hendaknya mereka memilih calon – calon yang komitmennya tinggi pada perusahaan,ini dimaksudkan untuk mendeteksi sejak dini pekerja yang kurang maksimal sehingga tidak terjadi hal yang dapat merugikan organisasi atau perusahaan. Melihat begitu pentingnya komitmen,maka kami akan membahas lebih jauh mengenai komitmen dalam makalah ini.

2.                  Rumusan Masalah
Bendasarkan latar belakang masalah diatas, penulis menentukan rumusan masalah sebagai berikut :
a.         Pengertian Komitmen Organisasi ?
b.         Manfaat Komitmen organisasi ?
c.              Cara membentuk komitmen organisasi ?
d.         Macam – Macam Bentuk Komitmen organisasi
e.              Strategi Dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi komitmen ?



BAB II
PEMBAHASAN


A.                Pengertian Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi merupakan loyalitas individu terhadap organisasi. Mereka yang memiliki komitmen tinggi cenderung lebih bertahan dan rendah absensinya daripada mereka yang memiliki komitmen rendah. Komitment organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut.
Menurut Stephen P. Robbins didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.[1]

B.                 Manfaat Komitmen
Manfaat dengan adanya Komitmen dalam organisasi adalah sebagai berikut :
a.   Para pekerja yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi terhadap organisasi mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam organisasi
b.   Memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi yang sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan
c.   Sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan mereka, karena pekerjaan tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi
C.                Cara membentuk komitmen
Tidak ada satu pimpinan organisasi manapun yang tidak menginginkan seluruh jajaran anggotanya tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi/perusahaan mereka. Bahkan sampai sejauh ini banyak pimpinan organisasi sedang berusaha menggiatkan peningkatan komitmen anggotanya terhadap organisasi.
Menurut Armstrong ada 3 pilar untuk membentuk komitmen seseorang terhadap organisasi, yaitu:
1.   Menciptakan rasa kepemilikan terhadap organisasi, untuk menciptakan kondisi ini orang harus mengidentifikasi dirinya dalam organisasi, untuk mempercayai bahwa ada guna dan manfaatnya bekerja di organisasi, untuk merasakan kenyamanan didalamnya, untuk mendukung nilai-nilai, visi, dan misi organisasi dalam mencapai tujuannya. Salah satu faktor penting dalam menciptakan rasa kepemilikan ini adalah meningkatkan perasaan seluruh anggota organisasi bahwa perusahaan (organisasi) ini adalah benar-benar merupakan “milik” mereka. Kepemilikan ini tidak sekedar dalam bentuk kepemilikan saham saja (meskipun kadangkala ini juga merupakan cara yang cukup membantu), namun lebih berupa meningkatkan kepercayaan di seluruh anggota organisasi bahwa mereka benar-benar (secara jujur) diterima oleh manajemen sebagai bagian dari organisasi. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk itu, mengajak mereka anggota organisasi untuk terlibat memutuskan penciptaan dan pengembangan produk baru, terlibat memutuskan perubahan rancangan kerja dan sebagainya. Bila mereka anggota organisasi merasa terlibat dan semua idenya dipertimbangkan maka muncul perasaan kalau mereka ikut berkontribusi terhadap pencapaian hasil. Apalagi ditambah dengan kepercayaan kalau hasil yang diperoleh organisasi akan kembali pada kesejahteraan mereka pula.
2.   Menciptakan semangat dalam bekerja, cara ini dapat dilakukan dengan lebih mengkonsentrasikan pada pengelolaan faktor-faktor motivasi instrinsik dan menggunakan berbagai cara perancangan pekerjaan. Menciptakan semangat kerja bawahan bisa dengan cara membuat kualitas kepemimpinan yaitu menumbuhkan kemauan manajer dan supervisor untuk memperhatikan sepenuhnya motivasi dan komitmen bawahan melalui pemberian delegasi tanggung jawab dan pendayagunaan ketrampilan bawahan.
3.   Keyakinan dalam manajemen, cara ini mampu dilakukan manakala organisasi benar-benar telah menunjukkan dan mempertahankan kesuksesan. Manajemen yang sukses menunjukkan kepada bawahan bahwa manajemen tahu benar kemana organisasi ini akan dibawa, tahu dengan benar bagaimana cara membawa organisasi mencapai keberhasilannya, bahkan sampai pada kemampuan menterjemahkan rencana ke dalam realitas. Pada konteks ini karyawan akan melihat bagaimana ketegaran dan kekuatan perusahaan dalam mencapai tujuan hingga sukses, kesuksesan inilah yang membawa dampak kebanggaan pada diri karyawan. Apalagi mereka sadar bahwa keterlibatan mereka dalam mencapai kesuksesan itu cukup besar dan sangat dihargai oleh manajemen.[2]

D.                Macam – Macam Bentuk Komitmen
Komitmen dibedakan menjadi dalam tiga tingkatan atau derajat, yaitu sebagai berikut :
a.   Komitmen pada tugas (Job Commitment), Merupakan komitmen yang berhubungan dengan aktivitas kerja. Komitmen pada tugas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti kesesuaian orang dengan pekerjaannya dan karakteristik tugas seperti variasi keterampilan, identitas pekerjaan, tingkat kepentingan pekerjaan, otonomi, dan umpan balik pekerjaan.
b.   Komitmen pada karir (Career Commitment), komitmen pada karir lebih luas dan kuat dibandingkan dengan komitmen pada pekerjaan tertentu. Komitmen ini lebih berhubungan dengan bidang karir dari pada sekumpulan aktivitas dan merupakan tahap dimana persyaratan suatu pekerjaan tertentu memenuhi aspirasi karir individu.
c.   Komitmen pada organisasi (Organizational Commitment), merupakan jenjang komitmen yang paling tinggi tingkatannya. komitmen organisasi terdiri dari tiga sikap, yaitu : perasaan identifikasi dengan misi organisasi, rasa keterlibatan dalam tugas-tuga s organisasi, rasa kesetiaan dan cinta pada organisasi sebagai tempat hidup dan bekerja, terlepas dari manfaat dan misi organisasi bagi individu.

E.                 Strategi Komitmen
Ada 10 komponen sebagai sebuah strategi bagi manajemen untuk meningkatkan komitmen anggota terhadap organisasi dalam mencapai tujuannya, yaitu:
1.   Definisikan dan diseminasikan misi dan nilai-nilai organisasi
2.   Sebarkan tujuan organisasi dengan cara meningkatkan pemahaman tiap orang akan strategi organisasi dan ajak anggota organisasi untuk berpartisipasi dalam menterjemahkan tujuan ke dalam strategi
3.   Mengajak anggota organisasi untuk terlibat dalam mendefinisikan persoalan dan ikut terlibat dalam pemecahan sampai mereka merasa langkah itu adalah merupakan miliknya
4.   Berikan pola kepemimpinan transformasional yaitu memberikan anggota organisasi inspirasi ide yang mengarah pada masa depan
5.   Gunakan setiap media komunikasi yang ada untuk menyampaikan pesan secara tepat tentang misi, nilai, dan stratgei organisasi
6.   Berikan contoh-contoh dan pelatihan yang merupakan perwujudan dari gaya manajemen organisasi dalam meningkatkan keterlibatan dan kerjasama anggota
7.   Kembangkan proses dan iklim organisasi yang mampu meningkatkan perkembangan ketrampilan orang dalam mencapai tujuan prestasi yang lebih tinggi
8.   Kenalkan kepada anggota organisasi keuntungan (profit) organisasi dan rencana pencapaian profit untuk tahun-tahuan mendatang
9.   Gunakan program pelatihan yang ada untuk meningkatkan impresi yang bagus dari karyawan terutama karyawan baru terhadap organisasi
10. Gunakan workshop atau jenis pelatihan lainnya untuk mengajak semua orang mendiskusikan isu-isu penting yang dihadapi organisasi dan berikan kesempatan pada mereka untuk memberikan kontribusi ide. Bahkan kalau perlu ambil tindakan mengenai ide – ide bagus mereka.[3]

F.                 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen
Komitmen pegawai pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap ada tiga faktor yang mempengaruhi komitmen seorang karyawan antara lain :
1.   Ciri pribadi pekerja termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan variasi kebutuhan dan keinginan yang berbeda dari tiap karyawan
2.   Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerja
3.   Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi di masa lampau dan cara pekerja-pekerja lain mengutarakan dan membicarakan perasaannya tentang organisasi.[4]


BAB III
PENUTUP

1.                  Kesimpulan
Komitmen organisasi merupakan loyalitas individu terhadap organisasi. Mereka yang memiliki komitmen tinggi cenderung lebih bertahan dan rendah absensinya daripada mereka yang memiliki komitmen rendah.
Manfaat dengan adanya Komitmen dalam organisasi adalah sebagai berikut :
a.    Para pekerja yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi terhadap organisasi mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam organisasi
b.    Memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi yang sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan
c.    Sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan mereka, karena pekerjaan tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi.
Komitmen pegawai pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap ada tiga faktor yang mempengaruhi komitmen seorang karyawan antara lain :
a.    Ciri pribadi pekerja termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan variasi kebutuhan dan keinginan yang berbeda dari tiap karyawan
b.    Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekerja
c.    Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi di masa lampau dan cara pekerja-pekerja lain mengutarakan dan membicarakan perasaannya tentang organisasi





DAFTAR PUSTAKA


Partina, Anna. Menjaga Komitmen Organisasional Pada Saat Downsizing. Dalam Jurnal Telaah Bisnis Vol 6.2005.
Allen, N.J., & Meyer, J.P. The measurement and antecedents of affective, continuance, and normative commitment to organization. Journal of occupational psychology, 63, 1990.
Martono, Ilma.  Hubungan antara iklim organisasi dengan keterikatan terhadap
organisasi: Studi pada karyawan perusahaan “X”. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok. 1997.
Rachmayati, Vera. Faktor-faktor yang mempengaruhi peramalan terhadap keikatan organisasi pada karyawan perusahaan “X” di Jakarta. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok. 1994
  



[1] Partina, Anna. .2005. Menjaga Komitmen Organisasional Pada Saat Downsizing. Dalam Jurnal Telaah Bisnis Vol 6.hal. 47

[2] Allen, N.J., & Meyer, J.P. 1990. The measurement and antecedents of affective, continuance, and normative commitment to organization. Journal of occupational psychology, 63.hal.233

[3] Martono, Ilma. 1997.Hubungan antara iklim organisasi dengan keterikatan terhadap
organisasi: Studi pada karyawan perusahaan “X”. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.hal.78
[4] Rachmayati, Vera. 1994. Faktor-faktor yang mempengaruhi peramalan terhadap keikatan organisasi pada karyawan perusahaan “X” di Jakarta. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.hal.94