Senin, 18 Desember 2017

SUPERVISI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang
Lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai organisasi nirlaba yang melayani masyarakat. Meski pun sifatnya nirlaba, namun bukan berarti sekolah tidak dituntut untuk terus meningkatkan mutu proses maupun output pendidikannya. Sebaliknya, sekolah sangat diharapkan  benar-benar memer-hatikan mutu, karena tugas suci yang diembannya adalah turut mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam menjaga mutu proses tersebut, diperlukan adanya quality controll yang mengawasi jalannya proses dan segala komponen pendukung- nya. Meski demikian pengawasan mutu dalam dunia pendidikan tentu berbeda dengan peruasahaan yang memproduksi barang/jasa. Sekolah adalah sebuah people changing institution, yang dalam proses kerjanya selalu berhadapan dengan uncertainty and interdependence Maksudnya mekanisme kerja (produksi) di lembaga pendidikan secara teknologis tidak dapat dipastikan karena kondisi input dan lingkungan yang tidak pernah sama. Selain itu proses pendidikan di sekolah juga tidak terpisahkan dengan lingkungan keluarga maupun pergaulan peserta didik.[1]
Dalam situasi demikian, maka pengawasan terhadap sekolah pasti berbeda model dan pendekatannya. Peran seorang pengawas pendidikan pun tentu berbeda dengan pengawas pada perusahaan produksi. Ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengem- bangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun individual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum. Terakhir, supervisor juga harus melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah dan pembelajaran pada sekolah-sekolah yang menjadi lingkup tugasnya.[2]
B.                 Rumusan Masalah
a.                   Informasi Dan Data Supervisi..........................................................?
b.                   Sumber Data Supervisi.....................................................................?
c.                   Teknik-Teknik Pengumpulan Informasi Dan Data Supervisi..........?



















BAB II
PEMBAHASAN

A.                 Pengertian Supervisi
Supervisi adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkat- kan mutu pendidikan. Untuk melakukan  supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina pening- katan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik,  baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic).
Pengertian supervisi secara etimologis, menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.[3]
Dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar dalam suatu lembaga pendidikan, serta seorang kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
B.                 Informasi Dan Data Supervisi
Inti pengertian supervisi adalah upaya meningkatakan kualitas kegiatan sekolah berdasarkan data yang lengkap, konfrehensif, rinci dan aktual. Peningkatan kualitas tersebutdilakukan dengan memberikan pembinaan kepada perssonel sekolah.
Dalam supervisi terdapat dua kegiatan pokok yaitu :
1.      Mengumpulkan data
2.      Melakukan pembinaan
Berapapun tinggi kemampuan seorang pengawas, tentu tidak akan sanggup mengumpulkan data seperti yang dikehendakinya. Bukan maksud memandang pengawas sebagai penjabat yang kurang mampu, akan tetapi hal tersebut memang tugas pengawas.
Sungguh berat, apalagi kalau harus membina semua gru bidang studi atau mata pelajaran. Seorang pengawas adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Sehubungan dengan kegiatan mengumpulkan data tersebut kini perlu difikirkan hal-hal yang berkenaan dengan data yang digunakan oleh pengawas, kepala sekolah dan siapa saja yang ingin membantu sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan atau kenaikan prestasi belajar siswa. Data yang berhasil diterima oleh pengawas atau kepala sekolah mungkin diberikan kepada orang lain yang membutuhkan atau digunakan sendiri olehnya.
Ada dua hal yang berkenaan dengan data yang digunaakan sebagai bahan untuk pembinaan dalam proses supervisi yaitu :
1.      Informasi atau data yang digunakan untuk pembinaan, yang berkenaan dengan faktor penentu keberhasilan belajar yang selanjutnya disebut data supervisi.
2.      Darimana data dan informasi tersebut diperoleh, yang selanjutnya disebut dengan sumber data atau sumber informasi.[4]
Dalam supervisi akademik, perhatian pengawasan tertuju pada saran yang sedang digunakan dalam proses pembelajaran, pengawasan yang tertarik kepada sarana supervisi administrasi. Data yang dapat digunakan sebagai bahan untuk pembinaan bukan hanya yang diperoleh dari pengamatan kelas oleh pengawas dan kepala sekolah saja, akan tetapi bermacam bentuk diantaranya :
1.      Data tertulis, yang terdapat dalam berbagai arsip dan dokumen yang dimiliki oleh sekolah, baik yang disimpan dikantor tata usaha, guru mata pelajaran, wali kelas, dan oleh siswa sendiri.
2.      Data yang berbentuk suara dan makna bahasa yang dikeluarkan oleh siapa saja yang disengaja oleh pelakunya dalam bentuk pidato, pembicaraan santai, pendapat atau usul, sanggahan atau bantahan, dan dapat juga berupa jawaban ketika orang yang bersangkutan diwawancarai.
3.      Data yang berbentuk gambar atau grafik yang ditangkap oleh indra penglihatan, antara lain berupa gerak orang (gaya mengajar guru dan perilaku siswa ketika mengikuti pelajaran dikelas), benda mati (suasana buku yang ada dalam perpustakaan dan alat-alat yang ditata di laboratorium)
C.                 Sumber Data Supervisi
Sumber data supervisi adalah suatu yang dituju oleh supervisi yang sedang mengumpulkan data, dalam rangkaian upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu sumber data supervisi pernah juga dikenal dengan istilah sasaran supervisi. Istilah sumber data menunjukkan pada tempat dimana data dapat diambil.
Secara garis besar sasaran tentang sumber data dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
1.      Orang yang diwawancarai, meskipun pendengar tidak selalu yang diajak bicara.
2.      Dokumen, yang dicermati isi kandungan yang tertulis dalam benda yang bersangkutan.
3.      Tempat atau lokasi, dimana letak benda, orang, atau apa saja yang dapat langsung diamati dengan mata.
Adapun keterangan untuk masing-masing jenis sumber data yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a.                   Orang atau Personel
Data yangg mungkin diambil dari sumber yang berupa orang adalah data yang berupa informasi, penjelasan, uraian, pendapat, atau usul dan saran mengenai kegiatan pembelajaran yang sudah ataupun yang sedag berlangsung. Personel yang dapat dihubungi dalam pengumpulan data supervisi akademik antara lain kepala sekolah dan wakilnya, guru wali kelas, karyawan dan karyawati dan paling utama adalah siswa sendiriyang langsung merasakan dampak dari pembelajaran maupun segala upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas sekolah. Sumber data yang berupa orang dapat memberikan data berupa keterangan, usul, uraian tentang persepsi atau pendapat yang rangsangan dari pihak lain.
b.                  Dokumen
Dokumen dalam pembicaraan tentang sasaran atau sumber data ini bukan terbatas pada buku-buku pedoman ataupun arsip saja tetapi semua hal yang mengandung tulisan, gambar, tabel dan bahan atau simbol grafis lainnya. Data yang berasal dari dokumen ini lebih dapata dipercaya karena merupakan catatan yang telah lama dibuat.
Sehubung dengan supervisi akademik yang termasuk dalam katagori dokumen yang berkenaan dengan komponen pembelajaran antara lain :
1.      Dokumen tentang komponen siswa, antara lain pengumuman dalam rangka pendaftaran siswa baru, buku pendaftaran dan buku induk.
2.      Dokumen tentang siswa yag jarang terfikir untuk dicermati adalah buku catatan siswa, pekerjaan rumah, tugas di kelas dan pekerjaan ulang mata pelajaran. Dokumen yang sudah dikerjakan dan disimpan oleh petugas bimbingan konseling dengan rapi dapat dimasukkan kedalam dokumen individu siswa karena kegiatannya langsung pada siswa yang bersangkutan.
3.      Dokumen tentang komponen ketenagaan, yaitu guru dan personel yang lain yaitu buku induk pegawai, surat-surat lamaran, kumpulan surat keputusan daftar gaji dan lain sebagainya.
c.                   Tempat atau lokasi
Dalam pembicaraan sasaran atau sumber data dalam supervisi akademik kini sudah cukup jelas. Dalam kunjungan kelas sebagai sumber data adalah tempat bukanlah personel guru karena pengawasan mengumpulkan data tentang gerak-gerik atau kinerja guru didepan kelas bukanlah mewawancarai guru. Demikian juga tentang gaya kepala sekolah dalam memimpin rapat, data yang diperlukan akan diambil dari pengamatan waktu rapat berlangsung.[5]
D.                Teknik-Teknik Pengumpulan Informasi Dan Data Supervisi
Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat dan teknik supervisi.
Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat atau teknik.
1.                  Teknik yang bersifat individual
a.       Perkunjungan kelas setiap kepala sekolah atau supervisi datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar dikelas. Tujuannya untuk memperoleh data mengenai keadaan yang sebenarnya selama guru mengajar. Dengan data tersebut supervisi dapat berbincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru. Pada kesempatan itu guru dapat mengemukakan pengalaman yang berhasil dan hambatan yang dihadapi serta meminta bantuan, dorongan dan mengikut sertakan. Fungsi dari kunjungan kelas adalah sebagai alat mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar guru dan cara belajar siswa.
b.      Observasi kelas
Ada dua macam observasi kelas yaitu :
1.      Observasi langsung yaitu dengan menggunakan alat observasi, supervisi mencatat absen yang dilihat pada saat guru sedang mengajar.
2.      Observasi tidak langsung yaitu orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana murid tidak mengetahuinya dan biasanya dilakukan dalam laboratorium untuk pengajaran mikro.
Tujuan observasi antara lain ialah :
1.      Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisis kesulitan yang dihadapi guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.
2.      Bagi guru sendiri data yang dianalisis akan dapat membantu untuk mengubah cara mengajar ke arah yang lebih baik.
3.      Bagi murid sudah tentu akan dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap kemajuan belajar mereka.
Syarat-syarat untuk memperoleh data dalam observasi yaitu :
1.      Menciptakan situasi yang wajar (cara masuk kelas),mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak menimbulkan prasangka dari pihak guru.
2.      Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
3.      Bukan melihat kelemahan melainkan melihat bagaimana cara memperbaikinya.
4.      Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid tentang proses belajar mengajar.
Alat-alat untuk observasi yaitu :
1.      Check-list adalah suatu alat untuk mengumpulkan data dalam memperlengkapi keterangan-keterangan yang lebih objektif terhadap situasi belajar dan mengajar didalam kelas.[6]
2.                  Teknik-teknik yang bersifat kelompok
Yang dimaksud dengan teknik yang bersifat kelompok ialah teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok.
a.       Pertemuan orientasi bagi guru baru (orientation meeting for new teacher)
Pertemuan tersebut ialah salah satu dari pada pertemuan yang bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja baru.pertemuan orientasi ini bukan hanya kepada guru baru saja akan tetapi juga seluruh staf guru.
b.      Panitia penyelenggara
Suatu kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasikan. Untuk mengorganisasi sesuatu tugas bersama, maka ditunjuk beberapa penanggung jawab pelaksana. Pelaksana ini dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolah kepadanya, banyak menddapat pengalaman-pengalaman kerja. Pengalaman dalam usaha mencapai tujuan, mengerti cara bekerjasama dengan orang lain, pengalaman yang berhubungan dengan tugas yang dibebankan. Berdasarkan pengalaman tersebut guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh dalam profesi mengajarnya.
c.       Teknik rapat guru
Rapat guru banyak sekali jenisnya, baik dilihat dari sifatnya, jenis kegiatan, tujuan maupun orang-orang yang menghadirinya.
Macam-macam rapat guru yaitu :
1.      Menurut tingkatnya
a.       Staff-meeting yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
b.      Rapat guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/wakil-wakilnya.
c.       Rapat guru sekota, sewilayah, dari sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat.
2.      Menurut waktu
a.       Rapat permulaan dan akhir tahun
b.      Rapat periodik
c.       Rapat yang bersifat insidental.
3.      Menurut bentuknya
a.       Individual conference
b.      Diskusi
c.       Seminar dan simposium
d.      Up-grading selama satu mingu atau beberapa hari.[7]
d.      Teknik diskusi
Pertemuan-pertemuan yang berwujud diskusi sering terjadi, baik disekolah maupun diluar sekolah. Diskusi terjadi pada berbagai bentuk pertemuan, bisa dalam rapat sekolah, dalam mimbar ilmiah, dalam laporan penelitian, pertemuan ilmiah, dan pertemuan lainnya. Materi yang di diskusikan pun bermacam-macam sesuai dengan tema dan materi yang dibahas.
            Tujuan teknik diskusi adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam pekerjaannya sehari-hari dan upaya meningkatkan profesi melalui diskusi multi arah di kalangan para peserta supervisi.
            Ada beberapa ciri-ciri tehnik diskusi yaitu :
1.      Supervisi bersifat kelompok yaitu sejumlah guru atau beberapa supervisor
2.      Tempat supervisi bisa saja disekolah ataupun diluar sekolah
3.      Guru yang di supervisi tidak dalam mengajar didalam kelas atau membimbing para siswa belajar
4.      Waktu melaksanakan supervisi bisa mendadak kalau supervisor atau guru menghendaki, ataupun waktu sudah direncanakan sejak awal
5.      Materi yang di diskusikan adalah masalah yang menyangkut dngan upaya peningkatan profesi guru.[8]





BAB III
PENUTUP

A.                 Kesimpulan
supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar dalam suatu lembaga pendidikan, serta seorang kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Ada dua hal yang berkenaan dengan data yang digunaakan sebagai bahan untuk pembinaan dalam proses supervisi yaitu :
1.      Informasi atau data yang digunakan untuk pembinaan, yang berkenaan dengan faktor penentu keberhasilan belajar yang selanjutnya disebut data supervisi.
2.      Darimana data dan informasi tersebut diperoleh, yang selanjutnya disebut dengan sumber data atau sumber informasi.
Secara garis besar sasaran tentang sumber data dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
1.      Orang yang diwawancarai, meskipun pendengar tidak selalu yang diajak bicara.
2.      Dokumen, yang dicermati isi kandungan yang tertulis dalam benda yang bersangkutan.
3.      Tempat atau lokasi, dimana letak benda, orang, atau apa saja yang dapat langsung diamati dengan mata.
Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat atau teknik.
1. Teknik yang bersifat individual
2. Teknik-teknik yang bersifat kelompok


DAFTAR PUSTAKA


Crowson and Pitner,  dasar-dasar supervisi pendidikan , Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Harris,  supervision behavior in education , Englewood Cliffs,  1984.
Ametembunsupervisi pendidikan,  Surabaya : Usaha Nasional, 1993.
Suharsimi Arikunto,  Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta : Rineka Cipta, 1999.
Hadari Nawawi. 1984. Administrasi Pendidikan.  Jakarta : PT. Inti Idayu Press, 1986.
Jhon Minor,  teori dan praktek supervisi, Dodd, N.Y : Mead and Company, 1963.
Piet A. Sahertian,  konsep dasar dan teknik supervisi pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta 2010.
Made Pidarta, supervisi pendidikan konstektual, Jakarta : Rineka Cipta, 2009.





[1] Crowson and Pitner,  dasar-dasar supervisi pendidikan , (Jakarta: Bina Aksara, 1986). hal. 33
[2] Harris,  supervision behavior in education , (Englewood Cliffs,  1984). hal. 20
[3] Ametembun,  supervisi pendidikan,  (Surabaya: Usaha Nasional, 1993). hal. 2
[4] Suharsimi Arikunto,  Dasar-Dasar Supervisi. (Jakarta : Rineka Cipta, 1999). hal. 67
[5] Hadari Nawawi. 1984. Administrasi Pendidikan.( Jakarta : PT. Inti Idayu Press, 1986).hal.47
[6]  Jhon Minor,  teori dan praktek supervisi,  (Dodd, N.Y : Mead and Company, 1963). hal. 326-327
[7] Piet A. Sahertian,  konsep dasar dan teknik supervisi pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta 2010). hal.87-89
[8] Made Pidarta, supervisi pendidikan konstektual, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009). hal. 177-180

Tidak ada komentar: