Kamis, 10 November 2016

bimbingan konseling



ANALISIS KEBUTUHAN-KEBUTUHAN

                                                             DI SUSUN OLEH :
                                                NAMA           : KHAIRUL IKHWAN
                                                NIM                : 152709092
                                                NAMA           : MARDIANA
                                                NIM                : 152709082

DOSEN PEMBIMBING
BACHTIAR CHANIAGO, M.Pd.


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE
2016



BAB I
PENDAHULUAN


A.                LATAR BELAKANG
Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Ada tiga istilah yang terkait dengan konsep penilaian yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, yaitu pengukuran, penilaian, dan evaluasi.
Pengukuran (measurement) adalah proses penetapan ukuran terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu (Guilford, 1982). Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi berdasar pada klasifikasi observasi unjuk kerja atau kemampuan peserta didik dengan menggunakan suatu standar.
Penilaian (assessment) adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta didik.
Evaluasi (evaluation) adalah penilaian yang sistematik tentang manfaat atau kegunaan suatu objek (Mehrens & Lehmann, 1991). Dalam melakukan evaluasi terdapat judgement untuk menentukan nilai suatu program yang sedikit banyak mengandung unsur subjektif. Evaluasi memerlukan data hasil pengukuran dan informasi hasil penilaian yang memiliki banyak dimensi, seperti kemampuan, kreativitas, sikap, minat, keterampilan, dan sebagainya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan analisis kebutuhan?
2.      Bagaimana peranan analisis kebutuhan?
3.      Bagaimana langkah  pelaksanaan analisis kebutuhan?



BAB II
PEMBAHASAN


I.                   PENGERTIAN ANALISIS KEBUTUHAN
Roger Kaufman dan Fenwick W. English (1979) mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai sutu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya. Dalam hal ini kebutuhan diartikan sebagai jarak antara keluaran nyata dan keluaran nyata dengan keluaran yang didinginkan untuk memperoleh keluaran dan dampak yang ditentukan.

II.                PERANAN ANALISIS KEBUTUHAN
Analisis kebutuhan adalah alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan perubahan. Yang dimaksud perubahan di sini bukanlah perubahan yang radikal dan tidak berdasar, tetapi perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional, perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan warga negara, kelompok, dan individu. Perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sitematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara “seperti apa yang ada” dengan “bagaimana seharusnya”.
Tiga langkah penting yang dilakukan oleh guru inovatif dalam menyiapkan rencana pembelajaran memasukkan unsur analisis kebutuhan yang disisipkan di antara pemilihan materi dengan pemilihan strategi pembelajaran.

III.              LANGKAH PELAKSANAAN ANALISIS KEBUTUHAN
Tentang bagaimana cara dan penahapan dalam melakukan penilaian kebutuhan dijelaskan oleh Anderson seperti di bawah ini.
a)                  Penilaian kebutuhan secara objektif
1.      Mengidentifikasi lingkup tujuan-tujuan penting dalam program yang akan dievalusi.
2.      Menentukan indikator dan cara pengukuran tujuan-tujuan.
3.      Menyusun kriteria (standar)untuk tiap-tiap indikator, dengan acuan pedoman atau acuan apa saja yang ada dalam sistem dan bidang yang dievaluasi.
4.      Menyusun alat pengukuran untuk tiap-tiap indikator.
5.      Membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria. Jika data yang diperoleh lebih rendah dari tingkat standar, maknanya berarti ada kebutuhan.
b)      Penilaian kebutuhan secara subjektif
1.    Mengidentifikasi tujuan penting dalam program yang akan dievalusi.
2.    Menentukan pilihan kriteria atau menyusun kriteria yang sesuai dengan setiap tujuan masing-masing bidang dan indikator. Dalam langkah ini evaluator perlu mengumpulkan banyak bukti formal yang akan digunakan untuk dasar pertimbangan kebutuhan.
3.    Menyusun skala bertingkat yang digunakan untuk mempertimbangkan tingkat penampilan indikator. Skala tersebut seyogianya berbentuk interval.
4.    Jika sudah selesai membuat skala, kumpulkan semua calon evaluator untuk bersama-sama menentukan urutan kebutuhan dan skala prioritas kebutuhan. Jika terdapat dua kebutuhan yang sejajar, diperlukan lagi kesepakatan untuk menentukan mana kebutuhan yang lebih mendesak untuk diprioritaskan dalam penyelesaiannya.
5.    Selain dua cara tersebut evaluator dapat menggunakan gabungan dari keduanya, yaitu sebagian menggunakan cara objektif, sebagian yang lain menggunakan cara subjektif. Di samping itu, seorang evaluator dapat juga menambahkan bahan lain yang diambil dari pihak luar dan di luar dirinya.


BAB III
PENUTUP


A.        KESIMPULAN
1.      Analisis kebutuhan sebagai sutu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya.
2.      Berbicara tentang peran analisis kebutuhan sama halnya dengan bertamya tentang apa manfaat dan mengapa evaluator perlu melakukan analisis kebutuhan. Di dalam sistem pendidikan, prestasi belajar siswa merupakan tujuan, sedangkan pendidikan sendiri merupakan sebuah alat, seperangkat proses dan cara-cara bagaimana membantu siswa untuk memiliki kemampuan agar dapat mempertahankan kehidupan sendiri serta mempunyai peran terhadap masyarakat sekitar bahkan jika mungkin umat sedunia, setelah mereka menyelesaikan sekolahnya.
3.      Ada dua cara yang lazim dilakukan dalam melakukan analisis kebutuhan, yaitu secara objektif dan subjektif. Pengukuran secara subjektif terjadi apabila pelaku membandingkan sesuatu kebutuhan dengan kondisi yang dapat diterima olehnya. Di lain hal, pengukuran secara objektif terjadi apabila kebutuhan yang diukur itu dibvandingkan dengan besarnya kebutuhan sesuatu bidang yang terkait dan sesuai dengan bidang yang akan dievaluasi.





DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2008. Avaluasi Program Pendidikan, Pedoman Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan (Edisi Kedua). Jakarta: Bumi Aksara.
Kaufman, et.al. 1979. Need Assessment, Concept and Aplication. New Jersey: Englewood Cliffs, Educational Technology Publications.