ANALISIS KEBUTUHAN-KEBUTUHAN
DI SUSUN OLEH :
NAMA : KHAIRUL IKHWAN
NIM : 152709092
NAMA : MARDIANA
NIM : 152709082
DOSEN PEMBIMBING
BACHTIAR CHANIAGO, M.Pd.
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (
STAIN )
MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk
memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Ada tiga istilah yang terkait dengan konsep penilaian yang
digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, yaitu
pengukuran, penilaian, dan evaluasi.
Pengukuran (measurement) adalah proses
penetapan ukuran terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu (Guilford,
1982). Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi berdasar pada klasifikasi
observasi unjuk kerja atau kemampuan peserta didik dengan menggunakan suatu
standar.
Penilaian (assessment) adalah istilah umum yang
mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai unjuk kerja individu
atau kelompok peserta didik. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti yang
menunjukkan pencapaian belajar peserta didik.
Evaluasi (evaluation) adalah penilaian yang
sistematik tentang manfaat atau kegunaan suatu objek (Mehrens & Lehmann,
1991). Dalam melakukan evaluasi terdapat judgement untuk
menentukan nilai suatu program yang sedikit banyak mengandung unsur subjektif.
Evaluasi memerlukan data hasil pengukuran dan informasi hasil penilaian yang
memiliki banyak dimensi, seperti kemampuan, kreativitas, sikap, minat,
keterampilan, dan sebagainya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang
dimaksud dengan analisis kebutuhan?
2. Bagaimana
peranan analisis kebutuhan?
3. Bagaimana
langkah pelaksanaan analisis kebutuhan?
BAB II
PEMBAHASAN
I.
PENGERTIAN ANALISIS KEBUTUHAN
Roger Kaufman dan Fenwick W. English (1979)
mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai sutu proses formal untuk menentukan
jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran
dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam
skala prioritas, lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan
masalahnya. Dalam hal ini kebutuhan diartikan sebagai jarak antara keluaran
nyata dan keluaran nyata dengan keluaran yang didinginkan untuk memperoleh
keluaran dan dampak yang ditentukan.
II.
PERANAN ANALISIS KEBUTUHAN
Analisis kebutuhan adalah alat yang konstruktif dan
positif untuk melakukan perubahan. Yang dimaksud perubahan di sini bukanlah
perubahan yang radikal dan tidak berdasar, tetapi perubahan yang didasarkan
atas logika yang bersifat rasional, perubahan fungsional yang dapat memenuhi
kebutuhan warga negara, kelompok, dan individu. Perubahan ini menunjukkan upaya
formal yang sitematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara
“seperti apa yang ada” dengan “bagaimana seharusnya”.
Tiga langkah penting yang dilakukan oleh guru inovatif
dalam menyiapkan rencana pembelajaran memasukkan unsur analisis kebutuhan yang
disisipkan di antara pemilihan materi dengan pemilihan strategi pembelajaran.
III.
LANGKAH PELAKSANAAN ANALISIS KEBUTUHAN
Tentang bagaimana cara dan penahapan dalam melakukan
penilaian kebutuhan dijelaskan oleh Anderson seperti di bawah ini.
a)
Penilaian kebutuhan secara objektif
1.
Mengidentifikasi lingkup tujuan-tujuan penting dalam program yang akan
dievalusi.
2.
Menentukan indikator dan cara pengukuran tujuan-tujuan.
3.
Menyusun kriteria (standar)untuk tiap-tiap indikator, dengan acuan pedoman
atau acuan apa saja yang ada dalam sistem dan bidang yang dievaluasi.
4.
Menyusun alat pengukuran untuk tiap-tiap indikator.
5.
Membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria. Jika data yang
diperoleh lebih rendah dari tingkat standar, maknanya berarti ada kebutuhan.
b) Penilaian
kebutuhan secara subjektif
1.
Mengidentifikasi tujuan penting dalam program yang akan dievalusi.
2.
Menentukan pilihan kriteria atau menyusun kriteria yang sesuai dengan
setiap tujuan masing-masing bidang dan indikator. Dalam langkah ini evaluator
perlu mengumpulkan banyak bukti formal yang akan digunakan untuk dasar
pertimbangan kebutuhan.
3.
Menyusun skala bertingkat yang digunakan untuk mempertimbangkan tingkat
penampilan indikator. Skala tersebut seyogianya berbentuk interval.
4.
Jika sudah selesai membuat skala, kumpulkan semua calon evaluator untuk
bersama-sama menentukan urutan kebutuhan dan skala prioritas kebutuhan. Jika
terdapat dua kebutuhan yang sejajar, diperlukan lagi kesepakatan untuk
menentukan mana kebutuhan yang lebih mendesak untuk diprioritaskan dalam
penyelesaiannya.
5.
Selain dua cara tersebut evaluator dapat menggunakan gabungan dari
keduanya, yaitu sebagian menggunakan cara objektif, sebagian yang lain
menggunakan cara subjektif. Di samping itu, seorang evaluator dapat juga
menambahkan bahan lain yang diambil dari pihak luar dan di luar dirinya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Analisis kebutuhan sebagai sutu
proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan
dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian
menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal
yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya.
2. Berbicara tentang peran analisis
kebutuhan sama halnya dengan bertamya tentang apa manfaat dan mengapa evaluator
perlu melakukan analisis kebutuhan. Di dalam sistem pendidikan, prestasi
belajar siswa merupakan tujuan, sedangkan pendidikan sendiri merupakan sebuah
alat, seperangkat proses dan cara-cara bagaimana membantu siswa untuk memiliki
kemampuan agar dapat mempertahankan kehidupan sendiri serta mempunyai peran
terhadap masyarakat sekitar bahkan jika mungkin umat sedunia, setelah mereka
menyelesaikan sekolahnya.
3. Ada dua cara yang lazim dilakukan
dalam melakukan analisis kebutuhan, yaitu secara objektif dan subjektif.
Pengukuran secara subjektif terjadi apabila pelaku membandingkan sesuatu
kebutuhan dengan kondisi yang dapat diterima olehnya. Di lain hal, pengukuran
secara objektif terjadi apabila kebutuhan yang diukur itu dibvandingkan dengan
besarnya kebutuhan sesuatu bidang yang terkait dan sesuai dengan bidang yang
akan dievaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2008. Avaluasi Program Pendidikan, Pedoman
Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan (Edisi Kedua).
Jakarta: Bumi Aksara.
Kaufman, et.al. 1979. Need Assessment, Concept and Aplication.
New Jersey: Englewood Cliffs, Educational Technology Publications.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar