ALIRAN PSIKOLOGI KOGNITIF
Di Susun Oleh :
NAMA :KHAIRUL IKHWAN
NIM :152709092

FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
LHOKSEUMAWE
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Teori yang melandasi pendidikan tersebut pada
dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Teoriasosiasi yang
berorientasi induktif artinya bahwa bangunan ilmu dalam pengembangan
pendidikan didasarkan atas unit-unit pengetahuan, sikap dan keterampilan
menjadi unit yang lebih universal dan general, aliran dalam teori ini adalah
aliran behaviorisme, atau lebih dikenal dengan aliran Stimulus-Respon
(S-R)yaitu aliran yang beranggapan bahwa pendidikan diarahkan pada terciptakanya
perilaku-perilaku baru pada peserta didik melalui stimus respon yang diberikan
selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian yang kedua adalah teori
lapangan (Field Theory) yang justru berbeda dengan teori
asisiasi, teori ini lebih mengarah pada deduktif, artinya pengetahuan itu
diperoleh dari sesuatu yang general dan holistik untuk menemukan
kebenaran-kebenaran dari unit-unit yang ada dalam pembelajaran tersebut. Teori
ini memiliki dua aliran yaitu kognitifisme dan humanism.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
aliran kognitif ?
2. Bagaimana Awal
Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif ?
3. Bagaiman
implikasi psikolog kognitif dalam pendidikan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Aliran
psikologi kognitif
Psikologi Kognitif merupakan cabang ilmu yang
mempelajari proses mental, bagaimana manusia berpikir, merasakan, mengingat,
belajar dimana otak akan menjalankan fungsi utamanya yang disebut dengan
berpikir. Dalam hal ini otak adalah sistem fisik dalam bekerja pada batas hukum
alam dan kekuatan sebab akibat, bisa menampung sebanyak-banyaknya, apapun item
yang masuk kedalam memorinya secara simultan. Kemampuan membedakan hasil
penginderaan, menghasilkan kemampuan lebih tinggi, membentuk kategori
konseptual.
Psikologi kognitif adalah ilmu yang
menyelidiki pola pikir manusia. Psikologi kognitif membahas persepsi terhadap
informasi (Anda membaca pertanyaan), membahas pemahaman terhadap informasi
(Anda memahami inti pertanyaan tersebut), membahas alur pikiran (Anda
menentukan apakah anda mengetahui jawabannya atau tidak), dan membahas
formulasi dan produksi jawaban Anda. Kemudian psikologi kognitif dapat pula
dipandang sebagai studi terhadap proses-proses yang melandasi dinamika mental. Sesungguhnya,
psikologi kognitif meliputi segala hal yang kita lakukan.[1]
B.
Awal
Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif
Psikologi
kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak
dasar psikologi Gestaly adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang
pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka
(1886-1941), yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan;
kemudian Wolfgang Kohler (1187-1959) yang meneliti tentang “insight” pada
simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkaan Psikologi Gestalt yang
menekankan bahasa pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam
pengamatan. Kaum Gestalis berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang
terbentuk dalam suatu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam
keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-Bagian yang terpisah. [2]
C.
Teori-Teori
Belajar Psikologi Kognitif
Dalam
teori "belajar ini berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya
dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”. Mereka ini adalah para
ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang
senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan
situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seorang
terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang
lebih bergantung kepada insight terhadap
hubungan-hubungan yang ada didalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih
daripada bagian-bagiannya. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan
atas stimulus di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi
pengamatan.
1.
Teori Belajar “Cognitive-Field” Dari Lewin
Bertolak dari
penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori
belajar “cognitive field” dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan
psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individu sebagai berada di
dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologi
di mana individu bereaksi disebut “life space”. Mencakup perwujudan lingkungan
di mana individu bereaksi, misalnya: orang- orang yang ia jumpai, objek
material yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kewajiban yang ia miliki.
Lewin
berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar
kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti tujuan,
kebutuhan, tekanan kejiwaan; maupun dari
luar individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut lewin, belajar
berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan
struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan satu dari struktur
medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan dan motivasi
internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting pada motivasi
daripada reward
2.
Teori Belajar “Cognitive-Developmental” Dari Piaget
Dalam teorinya,
piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktifitas gradual dari fungsi
intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah
seorang psikolog “developmental”
karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan
umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang
psikolog yang suatu teori komprehensif tentang perkembagan intelegensi atau
proses berfikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan
kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan
intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli
biologi menekannkan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan
individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka piaget tekankan
penelitian lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian /
adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi
berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam idividu akibat
interaksinya dengan lingkungan.
Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang
harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses
berpikir formal, yaitu:
1. Tahap
Sensori Motor ( usia 0 – 2 tahun ).
2. Tahap
Pra-Operasi (usia 2 – 6 tahun).
3. Tahap
Operasi Konkrit ( usia 6 – 12 tahun).
4. Tahap
Operasi Formal (usia 12 tahun keatas).
Piaget memakai
istilah “scheme” secara “interchangably” dengan istilah struktur. “Scheme”
adalah pola tingkah laku yang dapat di ulang. “Scheme” berhubungan dengan:
-
Refleks-refleks pembawaan; misalnya
bernafas, makan, minum.
-
Scheme mental; misalnya “scheme of
classification” , “scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sukar
diamati seperti sikap), dan “schmeme of operation” (pola tingkah laku yang
dapat di amati).
3.
Jerome Bruner Dengan “Discovery Learning”
Yang menjadikan
dasar ide J.Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus
berperan secara aktif di dalam belajar kelas. Untuk itu, Bruner memakai cara
dengan apa yang disebutnya “discovery learning”, yaitu di mana murid
mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
Banyak pendapat
yang mendukung discovery learning itu, di antaranya J.Dewey dengan “complete
art of reflective activity” atau terkenal dengan problem solving.
Bruner
mendapatkan pertanyaan “bagaimana kita dapat mengambangkan program pengajaran
yang lebih efektif bagi anak yang muda”? Jawaban Bruner ialah dengan
mengkordinasikan mode penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat
mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak.
Tingkat-tingkat kemajuan anak dari tingkat representasi sensory (enactive) ke
representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak
(symbolic). Demikian juga dalam penyusunan kurikulum.[3]
D.
Implikasi Teori Belajar Kognitif
Adapun Implikasi
teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah:
1.
Dorong siswa untuk berpikir tentang materi
pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika
mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh.
2.
Membantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang
paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada
siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka.
Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam
kehidupan mereka sendiri.
3.
Memberikan pengalaman yang akan membantu
siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The
Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam
kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur
Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.
4.
Kaitkan ide-ide baru dengan hal-hal yang
telah diketahui dan diyakini siswa tentang dunia. Contoh Ketika mengenalkan
kosa kata debut kepada siswa-siswa Meksiko-Amerika, kaitkan
dengan quinceanera, sebuah pesta “memperkenalkan kepada masyarakat
(coming-out party)” yang dilakukan banyak keluarga Meksiko-Amerika untuk
anak-anak perempuan mereka yang menginjak usia 15 tahun.
5.
Pertimbangkan kelebihan dan keterbatasan
dalam kemampuan pemrosesan kognitif siswa pada tingkat usia berbeda. Contoh
Ketika mengajarkan anak-anak TK keterampilan hitung dasar, bantulah rentang
perhatian mereka yang pendek dengan memberikan penjelasan verbal yang singkat
dan libatkan anak-anak dalam beragam aktivitas berhitung aktif dan langsung
6.
Rencanakan kegiatan-kegiatan kelas yang
membuat siswa secara aktif berpikir dan menggunakan mata pelajaran di kelas.
Contoh untuk membantu siswa memahami garis lintang dan garis bujur, minta
mereka menelusuri jalur sebuah angin topan dengan menggunakan koordinat garis
lintang dan garis bujur yang diperoleh dari internet.
BAB
III
PEBUTUP
A.
Kesimpulan
Psikologi Kognitif merupakan cabang ilmu yang
mempelajari proses mental, bagaimana manusia berpikir, merasakan, mengingat, belajar
dimana otak akan menjalankan fungsi utamanya yang disebut dengan berpikir.
Psikologi kognitif mulai berkembang
dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak dasar psikologi Gestaly adalah
Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem
solving. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941), yang
menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang
Kohler (1187-1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse.
Dalam teori "belajar ini
berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran
kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana
tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seorang terlibat langsung
dalam situasi itu dan memperoleh “insight”
untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang
lebih bergantung kepada insight terhadap
hubungan-hubungan yang ada didalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih
daripada bagian-bagiannya.
1, Teori Belajar “Cognitive-Field” Dari Lewin
2.
Teori Belajar “Cognitive-Developmental” Dari Piaget
Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang
harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses
berpikir formal, yaitu:
1.
Tahap Sensori Motor ( usia 0 – 2 tahun ).
2.
Tahap Pra-Operasi (usia 2 – 6 tahun).
3.
Tahap Operasi Konkrit ( usia 6 – 12 tahun).
4.
Tahap Operasi Formal (usia 12 tahun keatas).
3.
Jerome Bruner Dengan “Discovery Learning”
Adapun Implikasi
teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah:
1.
Dorong siswa untuk berpikir tentang materi
pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika
mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh.
2.
Membantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang
paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada
siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka.
Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam
kehidupan mereka sendiri.
3.
Memberikan pengalaman yang akan membantu
siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The
Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam
kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur
Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.
DAFTAR
PUSTAKA
Dalyono,
M. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka
Danim,
Sudarwan dan Khairil. 2010.Pengantar Kependidikan. Cetakan Pertama.
Bandung : CV. Alfabeta.
Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi
Pendidikan: Teori pertumbuh dan Berkembang. Edisi Keenam.Jakarta:
Penerbit Erlangga.
[1]Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010.Pengantar
Kependidikan. Cetakan Pertama. (Bandung : CV. Alfabeta).hal. 64
[2]Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi
Pendidikan: Teori pertumbuh dan Berkembang. Edisi Keenam.(Jakarta:
Penerbit Erlangga).hal. 23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar