Senin, 21 Januari 2019

Psikologi Manajemen


ALIRAN PSIKOLOGI KOGNITIF



Di Susun Oleh :
NAMA           :KHAIRUL IKHWAN
NIM                :152709092




Description: LOGO IAIN.jpg

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
LHOKSEUMAWE
2018



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar belakang
Teori yang melandasi pendidikan tersebut pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Teoriasosiasi yang berorientasi induktif artinya  bahwa bangunan ilmu dalam pengembangan pendidikan didasarkan atas unit-unit pengetahuan, sikap dan keterampilan menjadi unit yang lebih universal dan general, aliran dalam teori ini adalah aliran behaviorisme, atau lebih dikenal dengan aliran Stimulus-Respon (S-R)yaitu aliran yang beranggapan bahwa pendidikan diarahkan pada terciptakanya perilaku-perilaku baru pada peserta didik melalui stimus respon yang diberikan selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian yang kedua adalah teori lapangan (Field Theory) yang justru berbeda dengan teori asisiasi, teori ini lebih mengarah pada deduktif, artinya pengetahuan itu diperoleh dari sesuatu yang general dan holistik untuk menemukan kebenaran-kebenaran dari unit-unit yang ada dalam pembelajaran tersebut. Teori ini memiliki dua aliran yaitu kognitifisme dan humanism.
B.                 Rumusan Masalah
1.    Apa aliran kognitif  ?
2.    Bagaimana Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif ?
3.    Bagaiman implikasi psikolog kognitif dalam pendidikan ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.                Aliran psikologi kognitif
Psikologi Kognitif merupakan cabang ilmu yang mempelajari proses mental, bagaimana manusia berpikir, merasakan, mengingat, belajar dimana otak akan menjalankan fungsi utamanya yang disebut dengan berpikir. Dalam hal ini otak adalah sistem fisik dalam bekerja pada batas hukum alam dan kekuatan sebab akibat, bisa menampung sebanyak-banyaknya, apapun item yang masuk kedalam memorinya secara simultan. Kemampuan membedakan hasil penginderaan, menghasilkan kemampuan lebih tinggi, membentuk kategori konseptual.
Psikologi kognitif adalah ilmu yang menyelidiki pola pikir manusia. Psikologi kognitif membahas persepsi terhadap informasi (Anda membaca pertanyaan), membahas pemahaman terhadap informasi (Anda memahami inti pertanyaan tersebut), membahas alur pikiran (Anda menentukan apakah anda mengetahui jawabannya atau tidak), dan membahas formulasi dan produksi jawaban Anda. Kemudian psikologi kognitif dapat pula dipandang sebagai studi terhadap proses-proses yang melandasi dinamika mental. Sesungguhnya, psikologi kognitif meliputi segala hal yang kita lakukan.[1]
B.                 Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak dasar psikologi Gestaly adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941), yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler (1187-1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkaan Psikologi Gestalt yang menekankan bahasa pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengamatan. Kaum Gestalis berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-Bagian yang terpisah.  [2]          
C.                Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif
Dalam teori "belajar ini berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif  berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada didalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih daripada bagian-bagiannya. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
1.                  Teori Belajar “Cognitive-Field” Dari Lewin
Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar “cognitive field” dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individu sebagai berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologi di mana individu bereaksi disebut “life space”. Mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi, misalnya: orang- orang yang ia jumpai, objek material yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kewajiban yang ia miliki.
Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan  kejiwaan; maupun dari luar individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurut lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting pada motivasi daripada reward
2.                  Teori Belajar “Cognitive-Developmental” Dari Piaget
Dalam teorinya, piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktifitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah seorang psikolog “developmental” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog yang suatu teori komprehensif tentang perkembagan intelegensi atau proses berfikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekannkan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka piaget tekankan penelitian lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian / adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam idividu akibat interaksinya dengan lingkungan.
Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal, yaitu:
1.      Tahap Sensori Motor ( usia 0 – 2 tahun ).
2.      Tahap Pra-Operasi (usia 2 – 6 tahun).
3.      Tahap Operasi Konkrit ( usia 6 – 12 tahun).
4.      Tahap Operasi Formal (usia 12 tahun keatas).
Piaget memakai istilah “scheme” secara “interchangably” dengan istilah struktur. “Scheme” adalah pola tingkah laku yang dapat di ulang. “Scheme” berhubungan dengan:
-          Refleks-refleks pembawaan; misalnya bernafas, makan, minum.
-          Scheme mental; misalnya “scheme of classification” , “scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap), dan “schmeme of operation” (pola tingkah laku yang dapat di amati).
3.                  Jerome Bruner Dengan “Discovery Learning”
Yang menjadikan dasar ide J.Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar kelas. Untuk itu, Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya “discovery learning”, yaitu di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
Banyak pendapat yang mendukung discovery learning itu, di antaranya J.Dewey dengan “complete art of reflective activity” atau terkenal dengan problem solving.
Bruner mendapatkan pertanyaan “bagaimana kita dapat mengambangkan program pengajaran yang lebih efektif bagi anak yang muda”? Jawaban Bruner ialah dengan mengkordinasikan mode penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dari tingkat representasi sensory (enactive) ke representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak (symbolic). Demikian juga dalam penyusunan kurikulum.[3]
D.                Implikasi Teori Belajar Kognitif
              Adapun Implikasi teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah:
1.      Dorong siswa untuk berpikir tentang materi pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh.
2.      Membantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka. Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam kehidupan mereka sendiri.
3.      Memberikan pengalaman yang akan membantu siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.
4.      Kaitkan ide-ide baru dengan hal-hal yang telah diketahui dan diyakini siswa tentang dunia. Contoh Ketika mengenalkan kosa kata debut kepada siswa-siswa Meksiko-Amerika, kaitkan dengan quinceanera, sebuah pesta “memperkenalkan kepada masyarakat (coming-out party)” yang dilakukan banyak keluarga Meksiko-Amerika untuk anak-anak perempuan mereka yang menginjak usia 15 tahun.
5.      Pertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dalam kemampuan pemrosesan kognitif siswa pada tingkat usia berbeda. Contoh Ketika mengajarkan anak-anak TK keterampilan hitung dasar, bantulah rentang perhatian mereka yang pendek dengan memberikan penjelasan verbal yang singkat dan libatkan anak-anak dalam beragam aktivitas berhitung aktif dan langsung
6.      Rencanakan kegiatan-kegiatan kelas yang membuat siswa secara aktif berpikir dan menggunakan mata pelajaran di kelas. Contoh untuk membantu siswa memahami garis lintang dan garis bujur, minta mereka menelusuri jalur sebuah angin topan dengan menggunakan koordinat garis lintang dan garis bujur yang diperoleh dari internet.
BAB III
PEBUTUP

A.                Kesimpulan
Psikologi Kognitif merupakan cabang ilmu yang mempelajari proses mental, bagaimana manusia berpikir, merasakan, mengingat, belajar dimana otak akan menjalankan fungsi utamanya yang disebut dengan berpikir.
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak dasar psikologi Gestaly adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941), yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler (1187-1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse.
Dalam teori "belajar ini berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif  berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada didalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih daripada bagian-bagiannya.
1,         Teori Belajar “Cognitive-Field” Dari Lewin
2.                  Teori Belajar “Cognitive-Developmental” Dari Piaget
Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal, yaitu:
1.      Tahap Sensori Motor ( usia 0 – 2 tahun ).
2.      Tahap Pra-Operasi (usia 2 – 6 tahun).
3.      Tahap Operasi Konkrit ( usia 6 – 12 tahun).
4.      Tahap Operasi Formal (usia 12 tahun keatas).
3.                  Jerome Bruner Dengan “Discovery Learning”
              Adapun Implikasi teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah:
1.      Dorong siswa untuk berpikir tentang materi pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh.
2.      Membantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka. Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam kehidupan mereka sendiri.
3.      Memberikan pengalaman yang akan membantu siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.







                                               DAFTAR PUSTAKA                    

Dalyono, M. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka
Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010.Pengantar Kependidikan. Cetakan Pertama. Bandung : CV. Alfabeta.
Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Teori pertumbuh dan BerkembangEdisi Keenam.Jakarta: Penerbit Erlangga.


[1]Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010.Pengantar Kependidikan. Cetakan Pertama. (Bandung : CV. Alfabeta).hal. 64

[2]Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Teori pertumbuh dan BerkembangEdisi Keenam.(Jakarta: Penerbit Erlangga).hal. 23

            [3]Dalyono, M. 2007. Psikologi Pendidikan. (Jakarta: PT Rineka).hal.42


Tidak ada komentar: